Pulau Pari’s Team Building

#pulaupari #pari #pulau #pulauseribu #thousandsislands #teambuilding

Day 1, 14 Mei 2016:

Harusnya berangkat jam 8.45 dari Dermaga 17 Marina Ancol dengan ferry terakhir. Berhubung ada 1 rombongan yang telat tiba di Marina jam 9, maka kita ketinggalan ferrynya. Alhamdulillah, tour agent yang kita percaya sudah punya hubungan baik dengan orang-orang di Marina sana, jadi bisa dinegosiasikan untuk mendapatkan ferry yang baru untuk group kita sendiri. Jika peserta sedikit, hal tersebut tidak terwujud. Tapi karena jumlah orang dalam rombongan sekitar 30an, maka dapatlah kita 1 ferry sedang untuk menampung rombongan kita. Thanks to Tripper Adventure by Opan.

Lesson learned: BE IN TIME (bukan on time lagi, tapi in time). Datanglah lebih awal dari jam keberangkatan. Jangan terlena sama kemalasan kita sendiri. Sangat merugikan, kawan.

Sekitar jam 9.15 berangkatlah kita dengan tujuan Pulau Pari. Dengan menempuh perjalanan sekitar 1.5jam-an, kita tiba di pulau hampir sekitar jam 11.

DCIM101GOPROGOPR7757.
hi PrISP, welcome to Pari Island!

Istirahat sebentar lalu lanjut ke Pantai Perawan untuk team building. Hampir 1 jam di awal, diawalin dengan pemanasan dengan fun games. Berhubungan pesertanya 30% bule, maka pemandu harus bisa menterjemahkan perintah-perintahnya sendiri ke dalam bahasa Inggris. Lumayan seru dan menyenangkan untuk fun games ini.

  • Pemandu bilang hi, peserta bilang halo. Dan sebaliknya.
  • Kalau pemandu bilang 2, kita cari temen bikin kelompok 2 orang. Kalau pemandu bilang 3, kita cari temen bikin kelompok 3 orang. Begitu seterusnya.
  • Ketika berkelompok 3, ada permainan baru yaitu monkey, tree and earthquake. Jadi dalam kelompok tersebut, 2 orang menjadi pohon dengan menyatukan kedua tangan peserta dan sisanya jongkok di dalam naungan pohon jadi monyet. Kalau pemandu bilang monyet, maka si monyet keluar dari tempatnya dan cari tempat baru. Kalau dibilang pohon, maka kedua orang yang jadi pohon harus lepas tangan dan mencar cari teman lain untuk bikin pohon baru. Nah, ketika pemandu teriak gempa bumi, maka semua yang jadi pohon dan monyet harus menyebar dan membuat kelompok baru berformat pohon dan monyet lagi.
  • Buat lingkaran besar. Tadinya kita piker permainan yang umum yaitu pijit-pijitan, tapi ternyata salah duga. Lingkaran besar tersebut diharuskan merapat dan merapat dan terus merapat sampai akhirnya setiap orang bikin kursi sendiri dengan setengah jongkok dan teman depan kita akan duduk di “kursi” buatan kita. Kebayang deh kalau dapat teman yang besar di depan kita, nahan ga kalau dia duduk? :D. kebayang juga sama yang BB (bau badan), ahahahahaha… makanya kebersihan badan harus dijaga sebersih-bersihnya kawan. Ga perlu parfum mahal atau super wangi, yang penting badan ga bau itu sudah ok.
  • If … I will… permainan ini dibagi jadi 2 baris. Setiap orang dalam barisan mengambil gulungan kertas yang berisi satu kalimat. Jika barisan 1 dalam peran IF, maka barisan yang satunya dalam peran I WILL. Jika pernyataannya nyambung maka dapat hadiah coklat. Contoh: If you give me flower, I will give you a hug. Nah, jika pernyataannya jaka sembung, hadiahnya cekakakan dari teman-teman. Contoh: If I buy you medicine, I will go to the beach 😀 😀 😀 😛
  • Permainan terakhir mencari teman dalam bilangan 7. Di sinilah group team building terbentuk.

IMG_4459

Setelah cape, kita break dulu untuk ishoma dengan makanan khas pulau, yaitu seafood. Skala rasa 1 – 10 untuk restoran ini: 7.

Lanjut… mulailah team building dengan pembagian kelompok menjadi 4 group dengan masing-masing anggota sekitra 7 – 8 orang dengan 4 permainan plus yel-yel buatan masing-masing kelompok. Aneh, nyeleneh, nyata.

  1. Bambu gila. Kegiatannya yaitu angkat bambu bersama pakai telunjuk. Ga mudah loh. Bawaannya geregetan hhiiiihhhh…
  2. Cup race. Melihaikan kecepatan tangan dengan memindahkan gelas-gelas kertas.
  3. Mind field. Mencari titik finish dengan pola. Kuncinya: mengingat. Jadi setiap langkah teman kita yang duluan cari jalan harus kita ingat langkah-langkahnya biar yang selanjutnya bisa menduplikasi dan meneruskan sesuai feeling.
  4. Traffic jam. Ini pemainan paling sulit karena tidak ada 1 grouppun yang bisa menyelesaikannya.

Di setiap permainan ada pemandu yang pakai timer yang gunanya untuk mencatat waktu guna mendapatkan pemenang dengan catatan waktu tercepat.

Dimulai dari jam 1, selesai jam 2. Semua penuh tawa dan semangat. Thanks to the EO Namora by Tika.

Selesai team building, lanjut relaks menikmati hutan bakau dengan sekitar 5 perahu karena 1 perahu kayu berisi sekitar 7 orang dengan “sopir”.

Puas muter-muterin hutan bakau kita balik ke homestay untuk istirahat. Jam 5 sore siap-siap bersepeda ke pantai LIPI untuk lihat sunset. Pantai tersebut memiliki perumahan dan tempat kerja untuk para peneliti dari LIPI, karenanya disebut pantai LIPI.

Sayangnya, hampir mendekati magrib kita tidak dapat sunset karena berawan terus sepanjang waktu. Hiburan yang didapat adalah mengetahui bahwa di seberang nun jauh di sana ada pulau yang jarang terekspos yaitu pulau Tengah, tempat para artis dan pejabat plesiran dengan harga perumahan di sana rata-rata milyaran. Dari jauh saja sudah kelihatan elitenya, apalagi didekati, bisa nelen ludah sendiri :D.

Walau balik tanpa foto sunset, setidaknya dapat foto bareng-bareng di ujung jalan setapak LIPI.

Jam 7 malam waktunya makan malam, barbekyu dan pengumuman pemenang team building. Ahai… ternyata kelompok gw juara 1. Ga nyangka, padahal udah agak frustasi di permainan traffic jam.

Sebelum barbekyu dan pengumuman pemenang, digelar dulu itu yang namanya welcome speech dari bapak konsultan project manager kita, Mr. Koen. Kalau gw Cuma tim penggembira aja, jadinya kita ramein di setiap event termasuk welcome speech.

*baru sadar ga ada dokumentasinya pas dinner 🙁*

Setelah semuanya selesai, kembalilah kita ke homestay masing-masing untuk istirahat.

Day 2, 15 Mei 2016.

Jam 5 pagi yang mau berburu sunrise dipersilahkan ngumpul, tapi ga ada, ahahahahahaha… pada tepar plus hujan juga pagi itu. Cuma gw doing sama anak gw yang masih semangat. Alhasil kita bersepeda berdua aja menikmati sunrise sekalian kelilingin pulau Pari. Jadi hatam deh jalan-jalan di pulau itu.

Jam 7 pagi kita semua kumpul untuk sarapan.miegor dan nasgor plus mata sapi produk si ayam. Jam 7.30 siap-siap deh perjalanan ke pulau APL/ Bintang Rama untuk snorkling. Perjalanan sekitar hampir setengah jam. Dan tibalah di tengah laut tapi dangkal. Spot yang bagus memang untuk snorkling. Jadilah kurang lebih 2 jam berendam di sana. Yang bule-bule tidak pakai life vest, termasuk Babe (yang punya Pulau Pari ahahahaa…) dan Opan yang sudah biasa nyelem. Memang kita? Yang cemen tanpa pelampung hehehe… buka pelampung untuk foto dalam laut aja deg-degan… 😛

Balik homestay jam 11, acara leha-leha. Tidur dan cek ricek foto. Cekakak cekikik sampe bule-bule bengong ngeliat kehebohan orang udik macam kita. Sampe jam 12 ishoma, lanjut bobo-bobo cantik lagi sampai jam 2 siang. Jam 2.30 siap-siap ke darmaga untuk naik ferry.

Jam 3 lewat, hampir setengah 4 baru on board di ferry dan sampai Marina jam 5an. Langsung banyak yang jackpot 😀

Summary Run Down:

Day 1

No Time To Time Activities PIC
1 6:30 8:30 Home stay (for guests) to Marina, Dermaga 17 (meeting point) Koen
2 8:30 10:00 Marina to Pulau Pari Opan
2 10:00 12:00 Team Building in Pantai Perawan (Virgin Beach) Tika
3 12:00 13:00 Ishoma/ Lunch time All
4 13:00 15:00 Team Building in Pantai Perawan (Virgin Beach) Tika
5 15:00 16:00 Break Opan
6 16:00 18:00 Bicycling + sunset in Lipi beach Opan
7 18:00 19:00 Free time All
8 19:00 20:00 Welcome speech + Dinner Opan
9 20:00 22:00 Barbecue Koen
10 22:00 End day 1 Opan

 

Day 2

No Time To Time Activities PIC
1 5:00 6:30 Sunrise in Bukit Bintang (Star Hills), Darmaga/ Harbour Opan
2 6:30 7:30 Sarapan/ Breakfast Opan
3 7:30 10:00 Snorkling in Pulau APL/ Bintang Rama Opan
4 10:00 12:00 Back to Pulau Pari and Free time All
5 12:00 13:00 Ishoma/ Lunch time All
6 13:00 13:30 Preparation to speed boat Opan
7 14:00 15:00 Pulau Pari to Marina Opan
8 15:00 17:00 Marina to Hotel Koen

 

 

Hello GMT Belitung

#GMT #Belitong #Belitung #GMTBelitung #GMT2016 #GMTIndonesia #Gerhana #gerhanamatahari #kaolin #danaukaolin #rumahadatbelitong #mieatep

20160309_071925

Maret 2016, tahun yang special untuk Indonesia karena menjadi tuan rumah dari Gerhana Matahari, baik Total maupun Sebagian (GMT & GMS).

Gegap gempita persiapannya sudah heboh di berbagai media menjelang H-7.

Pilihan gw untuk melihat GMT jatuh ke Belitong, untuk sekalian lihat negri Laskar Pelangi si Andrea Hirata. Jadilah mendayung 1 pulau, 2 – 3 pulau terlewati atau sambil menyelam minum air y? ahahaha…

Perjalanan dengan pesawat udara memakan 1 jam dengan harga tiket yang super mahal, 3x harga normal karena ada peristiwa langka yang hanya terjadi di beberapa kota di Indonesia untuk Gerhana Matahari Totalnya pada tanggal 9 Maret 2016.

Bersama klub Jejak Penjelajah Langit (JPL), gw beserta mami dan anak tercinta mendarat di bandara HAS Hanandjoeddin (TJQ) tanggal 8 Maret jam 9.35 pagi. Dari 100 peserta yang dibagi dalam 11 mini bus, kami merupakan kloter terakhir karena ada beberapa yang sudah mendarat jam 7 pagi dan bahkan 1 – 2 hari sebelumnya.

Suasana tenang dan hawa yang panas menyambut kita sebagai pelancong pemburu gerhana. Naiklah mini bus Hi-Ace dalam bendera belitungwonderful.com. Perjalanan yang lumayan jauh dari bandara ke pantai Tanjung Kelayang di jam 10.30 pagi.

Setelah semuanya kumpul, kita dibagi lagi dalam beberapa perahu untuk mengelilingi komplek di sana. 10.45 kita semua take off berlayar ke pantai Burung tepat di jam 11.00. dinamakan pantai Burung karena batu-batu yang terbentuk di sana menyerupai kepala burung. Kita tidak bisa turun ke pantai tersebut karena memang untuk tidak disinggahi apalagi dijadikan tempat tinggal. Kita hanya bisa mengambil gambarnya dari perahu.

Lanjut melancong, hampir jam 12 siang kita tiba di pulau Gede Kepayang untuk makan siang. Di pulau itu rasanya memang dikhususkan untuk makan besar karena isi dari pulau itu adalah rumah makan. Untuk menyiapkan piring saja mereka harus import dari pulau besar terdekat. Tak disangka banyak juga bule-bulenya yang nongkrong. Untuk penilaian makanan dari skala 1 – 10: 4. Cukup di bawah rata-rata karena sate cuminya alot, susah dikunyah. Rasa ikan bumbu panggangnya hambar. Untuk sholat, disediakan tempat sholat dan tempat wudhunya. Air normal bukan air asin, jadi cukup nyaman untuk melaksanakan ibadah.

Setelah cukup kita lanjut ke pulau Lengkuas, pulau yang ada mercu suarnya. Tiba di sana jam 2 siang. Sayang sekali mercu suarnya ditutup karena akan ada pejabat yang datang. Jikalau buka, maka tiketnya hanya 5000 rupiah. Dijaga oleh seorang bapak tua yang masih segar. Di komplek mercu suar tersebut ada juga tempat penangkaran penyu. Tapi sayang saat itu sedang tidak ada “penghuninya”.

Jadi karena tidak bisa masuk ke atasnya, maka kita foto grup saja di depannya. Kereeen… sekalian nyebur untuk snorkling.

Nyambung… ke pulau Pasir. Tiba jam 4.30. Kenapa dinamakan pulau Pasir karena memang isinya pasir semua. Tidak ada pohon apapun karena memang ukurannya kecil. Maksimal bisa menampung orang sekitar 300 berdesak-desakkan. Yang membuat pulau itu ramai disinggahi karena ada bintang laut dengan berbagai ukuran. Aman untuk dipegang. Cuma mungkin untuk beberapa orang merasa geli karena tentakel-tentakelnya yang lumayan hihihii untuk dipegang. Tapi kita tidak perlu pegang bagian tersebut. Pegang saja tangan-tangannya yang berjumlah lima itu. Keras.

Setelah puas kami lanjut bergegas untuk makan malam di @unique bistro. Tiba di tempat makan sekitar jam 7.30 malam. Untuk rasa makanan dalam skala 1 – 10, kami bisa berikan rating 7. Selesai makan, digelarlah briefing untuk acara besok seharian pengamatan gerhana. Setengah jam dari jam 8 kami tiba di penginapan untuk istirahat.

Hari yang ditunggu, 9 Maret 2016. Kaos seragam sudah siap di badan jam 3 pagi. Jam 3.30 pagi kita sudah siap semua di dalam mini bus untuk meluncur ke pantai Burung Mandi. Dalam hampir 2 jam perjalanan, kami tiba di pantai tersebut. Sholat subuh dulu di musholla pantai. Sampai di sana, para pemburu GMT sudah berjejer di sepanjang bibir pantai. Dan kebanyakan dari mereka adalah bule. Tidak cuma orang-orangnya saja yang berjejer tapi juga alat perangnya sudah dalam barisan, yaitu teleskop dan kamera-kamera super canggih. Gw? Cuma mengandalkan handphone dan kaca mata khusus melihat matahari :D.

Diperkirakan GMT puncak di Belitong terjadi pukul 7.25 pagi. Jadi dari 6.30 saat-saat matahari masuk ke dalam bayangannya sudah dimulai. Rada sedih karena berawan terus dari awal sampai dengan selesai. Yang pakai kamera canggih tidak sedih-sedih amat sih karena sangat mengandalkan alat and it worked!

Sesekali kita melihat perjalanan GMT tersebut dengan kacamata khusus karena akan berbahaya jangka panjang bila kita melihat matahari langsung. Pemakaian kacamata juga tidak boleh terus menerus. Setiap 5 menit harus kita copot agar tidak berdampak jelek ke mata.

5 menit menjelang GMT, itu adalah saat-saat yang menegangkan sekaligus mencengangkan. Semua orang sudah stand by. 1 menit menjelang GMT keadaan sudah mendekati gelap, seperti masuk waktu magrib. Hewan-hewan kebingungan. Burung-burung bersahut-sahutan. Ramai. Tapi kita yang manusia diam seribu bahasa. Ketika puncaknya, otomatis gelap sekali keadaan di sekeliling dan kita semua banyak yang memuji kebesaran Allah dengan kata-kata mutiara, walaupun ada juga yang teriak-teriak karena excited!

Masya Allah, Subhanallah… it’s amazing. Baru ngerasain GMT pertama kali. Rasanya itu… GREAT! Menyaksikan “malam” sekejap di waktu pagi. Unbelievable. Kuasa Ilahi. Sejenius-jeniusnya orang, ga ada yang bisa nandingin/ bikin moment itu dengan alat secanggih apapun.

20160309_06245820160309_06504220160309_06542220160309_06562620160309_06594620160309_07240120160309_07252320160309_07270220160309_07304020160309_07402120160309_07512620160309_07523720160309_07541320160309_075418

Belum selesai gerhana sampai dengan 8.30, kita sudah bebenah. Yang sudah dapat momentnya di kamera langsung share. Ah keren-keren banget deh yang pakai kamera professional. Thumbs up.

Jam 8 pagi kita semua cao, berhenti sebentar untuk ngopi-ngopi dan ngeteh di central coffee. Tiba di sana jam 9. Ngemil-ngemil mie wkwkwkwk… well, tempat nongkrong kopi itu tempat yang strategis. Berjejer warung kopi di kanan kiri dengan di tengahnya tugu kopi.

Puas ngopi-ngopi, kita lanjut sampai di Museum Kata Andrea Hirata jam 10.30. hanya 15 menit waktu untuk menikmati museum itu. Puas tidak puas kawan karena masih panjang agendanya.

Museum yang unik dan penuh warna. Kami bertiga lama di pojok oleh-olehnya. Biasa… si bocah milih-milih kaos dan gantungan kuncinya lama. 15 menit selesai, panitia nyebar cari orang2nya untuk dikumpulin lagi ke mini bus karena kita akan melanjutkan ke SD Laskar Pelangi.

Bangunan SD itu hanya replika dari aslinya. Menurut informasi yang dipercaya, SD aslinya sudah direnovasi. SD replika itu terbuat dari rotan dan hanya terdiri dari 2 kelas dengan banyak rayap dan bangsat (sejenis binatang yang tidak terlihat tapi baunya menyengat tidak enak).

12.00 siang, waktunya makan. Kami meluncur ke rumah makan dekat pantai Laskar Pelangi. Skala rasa 1 – 10: 6. Selesai makan dan zuhur, kami nyebrang jalan (walau dengan mini bus juga) ke pantai Laskar Pelangi. Pantai yang terkenal dengan batu granitnya yang besar-besar.

Setelah puas berkeliling dan foto-foto narsis, kami melanjutkan ke komplek Pondok Kelapa untuk beli oleh-oleh khas Belitong lalu lanjut ke pantai Tajung Pendam sekitar jam 4 untuk rehat sebentar lalu lanjut makan malam jam 18.30 di RM Mak Panggong. Skala rasa 1 – 10: 7.

Jam 20.00 tiba di hotel untuk istirahat. Istirahat bukan berarti tidur malam karena kita berencana untuk star party. Exciting. Jam 11 malam semua sudah stand by. Ini di luar agenda karenanya ada biaya tambahan. So, jam sebelas itu kita semua sudah siap tempur dengan 4 mini bus.

Tempat pertama kita singgahi, kita batalkan karena kita masih melihat ada polusi cahaya datang dari sebuah pabrik dan cahaya itu seperti lampu tembak. Walau di sekeliling kita sudah ok, lapangan dan gelap gulita tapi kita tidak bisa teruskan berdiam diri di sana. Alhasil kita cari tempat baru dan dapatlah di pinggir jalan beraspal. Sama sekali tidak ada cahaya. Lampu-lampu mobil dimatikan. Dan lesehanlah kita di jalanan. Ketika ada kendaraan lewat, mobil mini bus penjaga akan menyalakan lampu sebagai tanda dan kita yang ada di tengah-tengah langsung merapat. Banyak tatapan aneh dari para pengendara yang lewat ke group kita. Group yang aneh mungkin pikir mereka, lesehan, celentangan, berdiri nunjuk-nunjuk langit, foto-foto langit :D.

DSC_0400 (1)
photo by Martin Marthadinata

Group pertama bertahan hanya sampai jam 2 pagi. 1 mini bus mengantar kita ke hotel dan baliknya bawa martabak pesanan group kedua. Group kedua balik ke hotel sekitar subuh. Foto-fotonya, mmm… cetar-cetar…

Hari terakhir, hamper semua peserta star party pada bangun siang. Susah melek. Tapi karena panitia masih ada hutang sarapan untuk yang belum dapat mie atep, maka gw dan yang lain langsung bergegas dan dijemput mini bus jam 10 untuk makan mie atep, mie yang terkenal di Belitung, secara gratis.

Baru kali ini ngerasain mie yang kuahnya kental dan manis seperti pakai gula. Mie ini sangat terkenal di Belitung dan dimiliki oleh seorang wanita bernama Atep. Warungnya ramai terus. Rasanya memang ada yang kurang kalau di suatu tempat baru kita tidak mencoba iconnya.

Jam 11 kita balik ke hotel untuk check out karena kita akan melanjutkan makan siang di tempat yang kemarin disingahi yaitu Unique bistro.

Perut kenyang, langsung lanjut ke rumah adat Belitong sekitar jam 2 siang tiba di sana. Sebelumnya mampir ke masjid raya. Rumah adat tersebut ada 2. Yang pertama dan terluar adalah rumah utama yang berisi ruang keluarga, ruang tamu, teras, dapur dan ruang makan. Rumah kedua yang di belakang adalah kamar tidur. Rumah tersebut adalah rumah panggung dengan ciri khas tangga untuk masuk ke dalamnya.

20160310_12272920160310_12155920160310_14082120160310_14050020160310_14012820160310_135421

Puas foto-foto, kita lanjut ke danau Kaolin. Danau yang cantik! Warna danau yang biru terang dengan kaolinnya putih seperti pasir putih. Warna biru terang tersebut dikarenakan pantulan kaolin karena sinar matahari. Kaolin digunakan untuk industri kecantikan, khususnya untuk pembuatan bedak. Rasanya bagus untuk foto nikahan di sana.

Tidak berlama-lama di sana karena memang hanya bisa menikmati pemandangannya tanpa bisa mendayung di danaunya, maka kami cukup setengah jam dan lanjut ke bandara untuk balik kampung ke Jakarta dengan penerbangan jam 16.30.

20160310_181722

 

 

 

World of Wonder, Cikupa, Tangerang

#world_of_wonder #cikupa #tangerang #7_wonders #rumah_hantu #es_krim

IMG_0967

Beralamat di sini:

Perumahan Citra Raya, Jl. Citra Raya Boulevard Blok K H 01/01, Sektor 3.1 Madigras, Cikupa, Tangerang, Banten, Indonesia

Kalau lewat toll Jakarta – Merak/ Tangerang, keluar di Bitung. Sekitar 5 KM an lagi sampai.

HTM: 75rb (70 rb wahana, 5rb kolam renang dengan pintu terpisah)

IMG_0997

Ada 7 wonders of the world.

Ada rumah hantu.

IMG_0995

Ada tempat main anak-anak.

Ada food court & pondok es krim, mmm…

*ga kefoto xixixixi… culun…*

Ada rujak bebek dadakan di luar pager.

Ada roller coaster mini

*ga keambil lagi fotonya karena sudah tegang duluan*

Ada kincir angin raksasa.

Ada rumah cermin.

IMG_1025

Ada perahu karet buat balita.

Ada mobil2an kayak di jalan raya beneran. Ada pom bensin dan bengkelnya.

IMG_1068

Ada rumah IPTEK (persis seperti di PP IPTEK TMII, hanya lebih besar di TMII)

Ada rumah ilusi. Nah ini yang paling menarik untuk narsis-narsisan 🙂

IMG_1064IMG_1073IMG_1077IMG_1082IMG_1089IMG_1090IMG_1101IMG_1102IMG_1108IMG_1112IMG_1120IMG_1123

Pastinya ada musholla dan toilet.

Pulangnya isi questionnaire trus dapet kalender 2016 :).

Sky World TMII

#skyworld #sky_world #tmii #planetarium #mini_planetarium #foto_3D #ruang_angkasa #roket

Rancangannya megah, tapi sayang, jadi komplitnya nanti di bulan April 2016 (ini ditulis bulan Februari 2016).

Yang sekarang ada, ya seadanya, dan terlihat seperti dipaksakan 🙂 tapi worth to try untuk ilmu dan foto 3Dnya. HTM per orang 40rb.

Namanya Sky World, adanya di TMII, posisi mojok deket pintu 2 (pintu yang dekat Asrama Haji), sebrang rumah2 adat Sumatera. Yang temporer terbangun, baru planetariumnya plus 3 arena pendukung, yaitu ruang presentasi, foto 3D dan ruang bermain anak2.

IMG_1505IMG_1530IMG_1532

Ketika masuk, langsung bertemu dengan planetarium mini. Dibuka pada jam-jam tertentu. Isinya tentu saja sama dengan planetarium yang ada di TIM (Taman Ismail Marzuki), tapi ini dengan ukuran mini dan tanpa kursi. Aha tanpa kursi, jadinya kita ngegeloyor sesukanya aja.

Ada yang duduk manis, duduk nyender sampai tiduran. Bebas tapi bertanggung jawab. Suami dan anak, dari duduk manis sampai akhirnya celentangan hahahahaha…

Sayangnya, ruangan tersebut tidak kedap suara. Pintupun hanya dari kain bukan pintu yg kokoh dan gagah. Jadi, ketika presentasi dimulai, suara presenter saing-saingan sama suara musik dari luar. Dan orang-orang yang tidak disiplin mengikuti presentasi sesukanya keluar masuk, jadi cahaya dari luar mengganggu jalannya presentasi yang harusnya dalam ruangan gelap.

Ruang presentasi. Ada di sayap sebelah kiri. Disediakan layar besar dan kursi seadanya plus 1 orang presenter dari HAAJ (Himpunan Astronomi Amatir Jakarta). Yeeaahh… klub astronomi gw yg udah lama gw vakum secara ngawal bocah mulu kalo wiken.

Yup, dengan fasih dan lancar, Mas Ibnu menjelaskan isi film yang disuguhkan kepada pengunjung. Setelah selesai, kita diajak keliling untuk melihat display2 informasi seputar astronomi sekaligus melihat replika roket. Presenter juga menjelaskan sejarah roket dan semua yang ada di display.

Sudah puas, bisa ke sayap berikutnya untuk foto 3D. jadi di ruangan sana disuguhkan foto2 di ruang angkasa yang dibuat seperti 3D plus disediakan baju astronotnya! Jadilah kita astronot dadakan yang berwisata di ruang angkasa :).

Pusing di Malaysia

IMG_9403

#Malaysia #KualaLumpur #SungeiWang #Pavilion #AppleHotel #GuaBatu #BatuCave #Genting

Leaving Jakarta Sabtu jam 11.40 take off dengan Lion. Sampai di bandara KL sekitar jam 3 petang. Tak ada jemputan, so naik kereta (mobil) lah. Tadinya mau naik tren (kereta), tapi begitu tanya petugas informasi, kalau mau ke Bukit Bintang lebih baik naik bis sahaja karena langsung turun di Bukit Bintang.

Dari pusat informasi bandara lurus sahaja terus belok kanan, turun ke level 1, ketemu deh parkiran bis. Dari sana tanya yg mana jurusan Bukit Bintang. Petugasnya dg baik hati bilang itu busnya lalu dianter beli tiket. 1 org dewasa tiket RM15, anak2 RM10. Perjalanan kurang lebih 1 jam. Dari bandara kami diturunkan di central, sambung naik van isi 10 org tanpa bayar lagi., dg van kami diantar tepat sampai depan hotel, Apple Hotel. Hotel kelas melati dengan bayaran sekitra IDR300rb/ malam. Secara kebersihan, ok, tapi utk ukuran, seperti hotel di jepang sana mentok sini mentok. Tapi tambahan plusnya, hotel itu ada di kawasan golden triangle. Surganya para turis di KL.

Masuk hotel sudah dibayarkan saudara tapi tetap ada taroh deposit RM100. Dari hotel, perut sudah lapar karena Lion tak dapat makan. Ditunggu saudara di Pavilion mall. Dari hotel yg terletak di jalan Alor, kita ke arah Lot 10 (Lotten). Dan ternyata di sana sangat padat pelancong. Food court terletak di GF, Food Republic, seperti di Singapore. 1 org makan sekitar RM15, minum bervariasi dari RM2 sampai dengan RM6.

Setelah kenyang, kita bisa bergerak lagi karena sudah isi bensin. Berangkatlah ke lantai 5. Supermarket Jepang. Semua serba RM5.6/pc. Barang2nya unik dan lumayan bagus. Belilah itu sikat buat bersihin tungku gas, jepitan rambut, dll. Worth enough. Lepas dari belanja kecil2, pergilah keluar Pavilion, foto2 di luar yang ada air mancurnya, plus foto2 gede macho Jhonny Deep.

IMG_9250

Karena my mom dan lovely daughter tinggal di Hyatt, maka diantar dulu ke sana lewat jembatan panjang penghubung dari pavilion ke KLCC. Lumayan sekitar 15 menit jalan melalui jembatan tsb. Kita tidak bisa sampai malam karena jembatan tutup jam 11 malam. Nyaman, karena tidak ada satupun pedagangn kaki lima. Aman, karena ditunggui beberapa security di setiap sudut. Sampai di Hyatt, langsung numpang foto dengan background menara kembar, ikonnya KL.

IMG_9273

Sepanjang perjalanan pulang dari pavilion setelah dari Hyatt, perjalanan kurang lebih 10 menit ke hotel Apple, banyak juga pengemis seperti di Jakarta. Tak ada salahnya membagi kelebihan rezeki kita, kawan.

Minggu, perjalanan ke Sungei Wang untuk makan siang. Sisa pagi hari habis untuk tungguin tuan putri bangun tidur dan mandi. Juga mendarat sebentar di apartemen Fahrenheit (seberang Pavilion) untuk absensi acara tepai anak muda. Sungei Wang itu ternyata mall, kirain sungai yang bisa boat tour (haduh alamak… jaka sembung). Mall yang sepi. Makan di food court lantai paling atas. Sebelumnya mampir dulu beli kebab ala Irak. Foto ini padahal ngeshoot pegawainya yang baju hijau, bukan artisnya yg mejeng di depannya :D.

Sungei Wang berlalu, meluncurlah ke mesjid Negara di Kuala Lumpur.  Berangkatlah kita dengan tren dari stasiun Bukit Bintang dengan harga tiket RM1/ org, turun di KL Sentral lalu pindah kereta ke Kuala Lumpur. Dari situ jalan sekitar 500 meter. Awas nyasar karena agak sukar jalanan keluar dan menembus langsung ke sana. Banyak2lah bertanya dengan orang sana supaya waktu lebih efektif.

Sudah agak desperado karena bawa 2 nenek2. Paham dong kalau jalan sama mereka kalau  bisa jangan menyusahkan mereka. Karena jalan ga kunjung nemu untuk ke mesjid, gw udh agak khawatir dengan mereka berdua. Tapi, Alhamdulillah ketemu juga walau udah sikit letih.

Sampai di sana, lelah terobati. Masjid besar kebanggaan warga Malaysia di depan mata. Langsung ngaso dulu di pelataran sambil foto2 dengan background kaligrafi gede Laailaahaillallah…

Yang mau masuk tanpa jilbab, dilarang masuk, kecuali anak kecil yang belum baligh. Juga yang sedang haid tidak diperkenankan. Petugas standby all the time. Tanpa jilbab tapi mau masuk, diperbolehkan, tapi kudu pakai baju muslimah yang sudah disediakan masjid.

Jadi masuk sana kita wudhu ke bawah, terus naik ke atas untuk sholat plus rebaan sebentar, ngelurusin tulang. Setelah selesai, kita keluar dari tempat sholat, tiba2 banyak orang mata sipit, kulit bersih pada berdiri di pintu masuk sholat. Mereka ga masuk tapi Cuma sampai pintu. Aneh dong kita yang ngeliatnya. Gw dan sepupu berfikir, wah ada mualaf banyak banget dari Jepang, tapi kenapa ga masuk dan sholat? Kenapa kita bilang mualaf, karena mereka smua pakai pakaian muslimah yang sama warna ungu dan berhijab. Eh, ternyata, mereka pengunjung yang ga pakai hijab tapi mau kunjungan masuk ke mesjid, ya kudu hijaban. Dan di awal dibilang, yang ga pake hijab disediakan bajunya. Dan ternyata mereka pakai “seragam” hijab dari mesjid. Dan bagi yang tidak beribadah (sholat), dilarang masuk ke tempat sholat.

Terjawab sudah kenapa mereka berhijab tapi Cuma sampai di depan pintu tempat sholat aja (ga masuk). Well, mudah2an mereka dapat hidayah-Nya J.

Lepas dari masjid, kita mau ke China Town yang ada di Petaling Street. Kata penjaga masjid sih dekat, tapi gw ga yakin dan karena bawa nenek2 juga, alhasil gw stop taxi. Dan ternyata feeling gw bener, ga deket bo’. So, gpp buang RM25 ketimbang mereka kelelahan.

Sampai di sana, kita narsis dulu sebelum masuk pasarnya. Setelah puas, baru ngejelajah. Secara sampai sana pas ashar, jadinya baru pada buka toko2nya, belum semua aktif. Tapi, lumayan udah banyak yang bisa diliat2 dan dibeli tentunya.

Ada beberapa yang unik yang kita ketemuin, seperti … jadi kacangnya dibakar dalam arang baru bisa kita makan. Lumayan legit. Ada juga es kelapa dalam batok. Yang ini maknyus endes bo’ alias enak. Secara gw hobi banget sama kelapa muda. Belum lagi temen2nya si kelapa bervariasi, ada kacang2an, marshmellow, kismis dan yg lain yg bisa kita pilih sendiri. Tadinya sih mak gw aja yang ga tega liat tukang es kelapa itu sepi ga ada yang beli. Doi kan gituh, ga tegaan sama orang yg ngenesin gitu deh. Dan setelah dibeli, kita ikutan nyicip, aih enak bo. Pedagangnya sumringah karena akhirnya kita nambah beli. Seneng liat pedagang yang bisa senyum karena laku :).

Puas liat2 di China town, kita mau balik ke hotel masing2. Tadinya mau jalan karena kata sopir taxi dekat itu hotel dari Petaling. Cuma, gw g yakin lagi nih. Gw heran, kenapa orang2 sana jarak yang 2 – 3 KMan dibilang deket? Kan lumayan juga jarak segitu bisa sejam jalan kaki. Apalagi sama nenek2, haduh… ga deh, bisa kualat gw nyusahin mereka. Dan well, bener pilihan gw naik taxi instead of jalan kaki dari Petaling ke hotel. Lumayan jauh.

Tadinya mau lanjut ke twin tower, tapi apa daya, udah pada K.O. ya, sudah istirahat aja. Sekalian simpen tenaga buat besok ke Genting Highland.

Nah, jadi juga deh pergi ke Genting dengan sewa mobil RM180/mobil untuk sekali jalan. Sebelumnya, mampir dulu ke Batu Caves, Sri Subramaniarowamy Temple, karena satu jalur dengan Genting. Gua batu ini sangat popular sebagai tempat wisata. Isinya patung Budha yang super duper gede. Terbesar mungkin di Negara sana untuk ukuran arca.

Masuknya gretong alias gratis alias ga bayar. Cuma, ya asal kuat aja nanjakin tangganya yg berjumlah sktr 200an. Di depan patung gede itu kita bakal banyak ketemu sama kawanan burung dara. Banyak banget. Kita bisa kasih makan ke mereka langsung dengan kita beli makanannya di sana.

Ketika mulai naik tangga, mulailah banyak monyet di sana yang ngincer bawaan kita. Jadi, dikekep2in aja barang2 kita jangan sampe kesamber mereka. Ada seorang wanita pegang makanan, langsung disamber sama salah satu monyet, dan tuh wanita langsung shock. Banyak banget deh monyet di sana, jadi kudu ekstra hati2.

Di tengah2 perjalanan tangga, kita akan nemuin Dark Cave dengan pintunya di sebelah kiri. Itu gua untuk kelelawar. Gw gak masuk situ. Males, ntar pipi gw dicubit2in kelelawar lagi. Jadi, lanjut aja terus ke atas.

Sampai di atas, kita akan memuin kayak aula gede gitu. Abis itu ada tangga lagi, naik lagi ke atas. Gempor2 dah. Beberapa para orang tua ga sanggup nerusin. Kl gw pasti gw terusin dan liat ada apa di atas sana. Dan ternyata di sana ada tempat ibadahnya mereka.

Setelah puas di Gua Cave trus liat2 tempat beli souvenirnya yang mostly kebanyakan menjual barang2 India seperti kain sari, dll, kita cabut langsung ke Genting. Perjalanan sekitar 1 jam-an lebih dari Gua Batu. Hujan deras dan kita mampir dulu ke toko utk beli oleh2 sebelum sampai ke hotelnya.

Sampai di lobi hotel First World Hotel, kita check in sendiri di mesin. Ada petugas sih yang standby untuk bantu2 kita yang ga lolos di mesin (maksudnya perlu guidance, red). Itu hotel, gedenya minta ampun tapi harga bersahabat. Bayangkan 1 kamar standard isi 2 orang ga sampe 200rb Rupiah.  Itu booking lewat on-line. Kalau on the spot, ga akan dapat harga segitu. Mana kamarnya baru, bagus, bersih, dan ga kecil2 banget.

IMG_9464IMG_9467IMG_9468IMG_9472

Kalau sudah musim libur, antrian di check in counter bisa berjam2. Bayangkan betapa gedenya itu hotel. Karena check-in jam 3 dan kita jam 12an udah sampe sana, terpaksa ngendon dulu di lobi. Lobinya segede gaban, bangkunya buanyak, jadi bisa dapet tempat duduk. Mendekati jam 3, ya ampuunn… udh ga keitung itu orang2 yang ada di sana untuk check-in. secara kita dah dapet kamar, langsung cus ke atas.

Hotel tsb terdiri dari banyak tower. Dan setiap tower terdiri dari ratusan kamar. Untuk sampai ke kamar gw aja, gw perlu ngiterin 1 haluan dulu dalam satu lantai untuk nemuin nomor kamar. Jadi waktu itu dapet nomor 700an. Nah begitu keluar lift di lantai tsb, gw kudu muterin 1 blok dulu yang mana itu kamar nomor 600an. Jadi nomor 700an ada di belakang blok 600an. Dan itu jalannya ga singkat. Mayan, man, olah raga.

Setelah selesai nyampe, istirahat bentar, trus jalan2 ke bawah. Dan ternyata di sebelah lobi itu ada arena permainan sekaligus mall juga tempat makan sekaligus panggung. Dan pastinya, Casino! Semua indoor. Mirip banget konsep dan penampilannya dengan Trans Studio Bandung. Atau TS Bandung yang ikutin Resort World yah? :D.

Luas dan bertingkat. Kalau ga salah 3 atau 4 lantai. Ada panggung utama, yang setiap berapa jam sekali ada show gratis. Paling mereka minta tips untuk bayaran. Tempat makannya juga lumayan, Cuma kudu hati2 utk yang muslim cari makanan halalnya. Cari aja yg ada logo/ tulisan halal.

Tujuan utama orang2 ke sana ya memang untuk casino. Jadi, di setiap hotel di Genting, pasti ada casinonya. Gw punya cerita lucu sehubungan dengan kasino.

IMG_9493

Kata sopir yang bawa kita, Koh Edi alias engkoh botak, bilang ada pertunjukan sirkus. Kalau bayar bisa sktr RM90an. Tapi, ada cara untuk bisa gratis. Wah, tertarik dong kita. Selain gretong nonton, fasilitas yang lain yg bisa kita dapetin adalah kita bisa dapat kamar gretong in the next stay. Jalanlah gw, si engkoh dan 1 anak umur 18 thn, emak gw dan anak gw umur 10 thn. Kita dibawa ke hotel exclusive, Maxim. Dan ternyata setelah di dalam hotel, kita dibawa ke dalam casino yang super duper guede.

Mak sama anak gw ditinggal di luar karena anak di bawah umur ga boleh masuk casino. Karena mak gw ga tega ninggalin dia sendiri, jadilah mereka berdua nunggu di luar casino. Secara gw pake hijab, maka pada banyaklah orang-orang yang memandang ga normal ke gw di dalam casino. Mana perjalanannya jauh lagi dari masuk casino sampai meja pendaftaran. Tapi, amazing juga, pengalaman pertama masuk casino. Dan gw ngerasa lagi kayak di film action yang banyak ambil background di casino. But, now, it’s real ga lewat kamera pelem.

Akhirnya sampai juga di meja pendaftaran setelah kurang lebih 10 menitan jalan ngider2 dalam casino. Sampai di sana, diminta passport kita terus kita diminta foto untuk foto di ID, kartu yang dikeluarkan dari casino sana. Syarat: di atas 20 thn dan ga boleh pakai hijab foto di kartunya.

Secara yang satunya baru 18thn dan gw ga akan buka hijab demi nonton gratis, alhasil ga ada yang bikin kartu. Tapi setidaknya tau lah cara untuk bikin kartu untuk kasih tau sodara2 yang lain yg barengan sama kita stay di sana. Nah, si 18 thn ini akhirnya datang lagi ke sana sama mamanya untuk registrasi. Dan berhasil. Begitu juga sepupu gw. Untung dia bikin. Kenapa untung? Anyway, sepupu gw itu katholik, jadi ga ada urusan sama hijab.

Dia Cuma book 1 malam di hotel sana karena masih ragu untuk ngelanjutin apa enggak. Dan ternyata dia dan keluarganya mutusin untuk terusin. Akhirnya Tanya bagian reservasi di lobi, itu susah banget dapat kamarnya. Kalaupun dapat harganya harga on the spot yang mahal. Dia udah bingung. Ngomongin yang pendaftaran kartu anggota itu yg tadinya tujuan utk nonton sirkus gratis, dia ikutan daftar. Dan ga taunya kartu dia nolong banget untuk reservasi berikutnya.

Jadi, dengan dia unjukin kartu keanggotaan Resort World sana, dia dapat kamar gratis! Serius, gratis. Begitu juga om gw yang pacarnya ikutan ngedaftarin (mamanya si anak 18 thn itu), dapat kamar gratis juga untuk om gw yang nyusul ke Genting. Wah, beruntung bener deh guidance si engkoh botak itu.

Sehari di sana mungkin menyenangkan. Tapi lewat 1 hari dah membosankan. Secara gw kan ga ke casino. Buat orang2 yg hobi ke casino, mau sebulan pun di sana ga akan ada bosennya dh. Belum lagi yang hawanya lumayan dingin di luar. Berkabut terus. Juga, ga ada apa2 di luar. Ga kayak di puncak JaBar yang banyak jajan dan hiburan di luar hotel. Jadi, lepas 1 malam, kita cabut balik ke airport untuk lanjut balik ke tanah air tercinta. Karena gw sekeluarga ber4 dan kalau mau naik bisa dari hotel itu ke bandara hampir sama biayanya dengan sewa mobil, alhasil, gw telpon lagi deh Koh Edi untuk sewa mobilnya lagi. Kali ini kurang dari RM180 karena jaraknya lebih pendek ketimbang perjalanan awal.

Sampailah kita di KLIA, bandara internasionalnya Kuala Lumpur, Malaysia dengan perasaan senang karena bakal balik ke Jakarta yang sumpek :).

IMG_9513

 

 

Kafe Kucing Kemang/ K3 – Cutie Cats Café/ C3

#kucing #cat #kafe #cafe #kemang #cutie

Nih, buat penggemar kucing, ada tempat buat muasin ngelus2 dan main2 sama kucing2 yang sehat, imut dan menggemaskan. Yang bukan penggemar bingits kucing, disarankan untuk datang dengan teman yang penggila kucing :).

Karena si bocah 11 tahun sangat gemar dengan kucing, gw bawa aja deh ke kafe sini, Cutie Cats Café/ C3. Ada di Kemang. Ga jauh dari pusat Kemang, yang ada McDnya, ikutin yang 1 arah lalinnya muterin pusat Kemang. Ga jauh dari mesjid gede.

Oia, kalau mau ke sini kudu book dulu ya by phone karena takutnya penuh, jadi ga kebagian kesempatan atau nunggu lama lagi. Per orang per jam 75rb ditambah ppn 10%, jadi total 1 orang 82,5rb. Untungnya waktu kita datang, hari Sabtu jam 10, masih sepi pengunjung, jadi Cuma kita ber3 aja. Serasa punya kucing sendiri :).

Ada rulesnya sebelum masuk. Kita ga boleh angkat2 kucing karena takut mereka stress, jadi Cuma dibelai dan dipegang2 aja. Kita juga ga boleh kasih makanan selain yang disediakan. Jadi kalau mau kasih makanan, beli yang ada di cafenya. Kebetulan pas kemarin pembelanjaan di atas 150rb dapat 1 angpao, ambillah angpao dan dapatnya makanan kucing.

Nih alamat lengkapnya.

Ini penampakan luar.

Lorong masuk ke dalam.

Kudu ganti alas kaki dulu.

IMG_1678

Ada cafenya yang isinya Cuma snack aja, ga ada makanan berat.

Macam2 jenis kucing dan masing2 punya nama loh.

IMG_1761IMG_1762IMG_1763IMG_1764

Ga berapa lama kita datang, pembagian jatah makan deh.

Habis makan, pada leha-leha. Banyak yang tidur juga. Ada yang pup juga. Ada tempat khususnya loh  xixixixi…

Kalau mau puas main dengan mereka, hindari jam makan. Karena kalau sudah makan, duh, pada mager semua, alias males gerak, jadi kuras (kurang asik) bwt diajak main.

Cuma ini yang SKSD sama kk karena kk punya rahasianya, yaitu makanan kucing xixixixixi… mungkin karena mereka juga ada bosan dengan makanan sehari-hari, jadi begitu ada makanan beda, langsung deh dideketin terus yang punya itu rahasia.

IMG_1776

Setiap hari mata kucing2 ini dibersihkan.

IMG_1750

Sleeping mode on.

Kalau sudah selesai, kita bisa bersihkan tubuh dan baju kita pakai alatnya, semacam roll untuk ngecat, tapi dia itu lengket kayak ada lemnya, gunanya untuk nempelin bulu2 kucing di baju kita ke roll-an itu.

IMG_1788

See you again…

Pulau Kiluan (Kiloan): Surga Lampung yang Berkilau

DSCN2896

#Kiloan #Kiluan #Lampung #Lumba-lumba #Dolphin #Snorkling

16 Mei 2014, Jam 8 malam kita berangkat dari kantor di Pulo Gebang menuju TB Simatupang untuk jemput teman-teman yang lain. Setelah itu meneruskan ke pelabuhan Merak. Sampai di Pelabuhan Merak, waktu menunjukkan pukul 11.30 malam. Alhamdulillah, anak saya yang berumur 9 tahun anteng aja walau melek sejenak karena harus bergerak memasuki ferri.

Ferri yang kami tumpangi cukup besar dengan banyak penumpang. Kami mencari ruangan yang ada AC-nya agar nyaman dan bisa tidur. Jadilah kami mendapatkan beberapa bangku dan menggelar tikar di tempat yg tidak ada bangkunya. Disediakan bantal di sana untuk disewa.

Di kapal juga tersedia jasa mijat dan bekam. Jadi, bagi yang ingin rileks dengan pijatan, bisa panggil bapak2 tukang pijat dengan bayaran terjangkau.

Kami tiba di Pelabuhan Baukeheni Lampung pada tgl 17 Mei 2014 jam 3.30 pagi dini hari. Terlalu dini untuk semua kegiatan kecuali Tahajjud. Kami keluar pelabuhan lalu menuju masjid untuk melaksanakan sholat Subuh karena sampai masjid waktu sudah mau menunjukkan waktu sholat Subuh.

004

Masih di Baukeheni, kami menuju ke pangkalan angkot. Koordinator kami mencoba menghubungi 2 angkot yang sudah dibooking sebelumnya. Tujuan Canti, berangkat pukul 05.30. perjalanan yang dahsyat!  Bagaimana tidak dahsyat? Valentinno Rossi aja kalah sama si sopir angkot :D.

Dengan menempuh perjalanan hamper 40 km, jam 6.45 am sampai di Canti, naik boat menuju P. Legundi. Sebelumnya isi perut dulu biar ga mual sekaligus buat tenaga di atas air karena lumayan hampir 3 jam di atas air. Di sana kita banyak ketemu teman-teman seperjuangan, bahkan beberapa diantaranya bule dan pale.

Sebagian dari kita memang menuju ke Kiluan. Sebagian lagi menuju ke gunung Krakatau. Someday, I will be go to Krakatau. Kayaknya enak juga…

9.30 am sampai di P. Legundi. kita snorkling di kedalaman 2 – 3 meter. Subhanallah, Masya Allah … cantik nian isi laut tuh. Maklum, ini pertama kali snorkling, liat perut laut langsung. Asinnya yang ga tahan di mulut. Belum lagi kalo kacamata snorklingnya ga nempel ketat, ampun dh mata, perih kena air laut. Si bocah dah kapok snorkling karena ya itu, air lautnya masuk mata. Jadi, yang bawa anak kecil, bawain kacamata snorkling khusus ukuran dia supaya bener2 pas di mata, ga longgar. Karena yang disediain utk group seperti itu biasanya semua ukuran dewasa, jadi longgar kalau buat anak kecil.

Bernarsis ria lah kita di bawah air. Lumayan deg-degan ketika foto dalam air karena kudu lepas life vest. Tapi setelah selesai dan lihat hasilnya, super seneng.

Puas snorkling, kita cabut lagi dan tiba jam 11.00 am di P. Kelapa. Pasirnya subhanallah masya Allah putiiihhhh dan bersiiihhhh, amazing deh. Banyak karang2nya juga bagus2. Terus terang, gw ambil beberapa untuk pemanis aquarium di rumah. Banyak juga temen2 yang ambil karang2nya. Trus, kita foto2 dg pasir yg begitu putih dan bersih dan setelahnya isi perut, makan siang di sana. Makan siang di atas pasir putih nan bersih, kapan lagi?

018

Puas makan, kita cabut lagi naik boat karena perjalanan belum selesai. Sekitar hampir 2 jam, kita baru deh sampe di pulau Kiluan. Jam 14.30 pm sampai di P. Kiluan. Kita taro semua barang2, bersih2 lalu sholat dan ganti lagi baju yang tadi yg udah basah sama snorkling untuk pergi ke Laguna Gayau.

022
Welcome to Teluk Kiluan island, Lampung. Enjoy the activities: Live dolphin show, Snorkeling, Laguna (natural swimming pool), Sunset, Pure Coconut, Barbecue and of course, Me Time! 🙂

Naik boat lagi dari P. Kiluan, tapi ga lama, Cuma sekitar 15 menit ke laguna. Jam 15.30 pm kita udah tiba di pulau entah apa namanya untuk jalan ke laguna. Apa sih laguna itu? Laguna itu air laut yang terjebak batu karang, jadi ngebentuk kolam renang. Keren banget deh.

Dan untuk mencapai itu, diperlukan perjuangan yang sangat menantang. Berlika liku di daratan dan penuh resiko ketika membelah karang. Jadi, ketika sampai di pulau tersebut, kita membelah perkampungan, lalu naik bukit yang lumayan biking ngos-ngosan, terus baru deh turunin bukit. Sepanjang naik dan turun bukit, jalan yang dilalui adalah jalan setapak dan licin.

Ketika di tengah perjalanan di bukit, kita ketemu kru dari stasiun tv swasta yang lagi ngeliput pulau tersebut dengan tujuan yang sama, Lagunanya. Ada presenter cantiknya, sesekali membawakan cerita dan dishoot. Karena bu ketua SKSD, jadilah kita ngobrol-ngobrol sama doi. Doi kerja utk stasiun TV baru di acara travel n petualangan gitu.

Petualangan sejati terjadi ketika kita selesai ngebelah perbukitan, sampai di pantai dan mulai membelah karang2 tajam, licin dan terjal. Pokoknya rada horror kalau ga hati2. Dan kudu kudu extra super hati2 karena selain gw seorangan yang harus jaga diri, gw juga harus jaga bocah yang baru 9 tahun untuk ngelewatin itu. Ga ada jalan lain. Pelang-pelan, hati-hati, focus, konsentrasi, itu kuncinya. Dan alas kaki yang tepat. Kalau ga pake sandal gunung, mesti kudu extra hati-hati sangat. Nah tuh, lebay banget kan penambahan2 kata2nya. Tapi, bener karena kalau pakai sandal jepit atau sepatu kets, bisa jadi tergelincir Karena ga keket cengkramannya ke karang.

026
what a view! *love*
023
ketemu presenter
029
tidak ada jalan mulus
025
loncat dulu 😀
027
narsis dulu
028
lika-liku perjalanan menuju laguna
032
medan sulit pakai bantuan bambu
030
licin dan tajam

031

Dan hasil dari perjuangan yang wah itu, hilang sudah lelah dan kecemasan ketika mata melihat laguna yang cantik itu. Keren. Kece. Kualitas OK. Langsung nyebur, dan kita ga tenggelem tapi ngambang saking asinnya itu laguna. Ya… jadinya berjemur dalam air hahahaha… trus lihat yang lain pada terjun bebas dari karang berketinggian sekitar 5 meter, gw juga akhirnya nyoba. Dag dig dug, tapi loncat juga, alhasil ketagihan sampe 3x hahahahaa… what an adrenalin!

033

Puas di laguna, kita balik mondok ke pulau Kiluan jam 17.30 pm trus istirahat di cottage. Menikmati sunset, indah bingits. Sambil santai di ayunan pohon J. Lalu, bakar2an makanan (jagung dan teman2nya) sambil chit chat menunggu ngantuk. Listrik belum ada lagi, haduh… terpaksa, mandi, sholat, dll dalam kegelapan, sambil nunggu solar tiba. Ya, di sana ga ada listrik yang dari PLN, tapi dari jenset yang pakai solar.

039

18 Mei 2014

Bagun pagi jam 5an, huaaaa… jam 06.00 am hujan! Ga asik banget, beneran. Kita kudu pagi-pagi jam segitu kalau mau lihat lumba2 nyebrang laut. Tapi, hujan tak kunjung reda sampai 1 jam. Galau lah kita semua. Dengan penuh kenekatan, kita putusin tetap jalan jam 7. Kita ga bisa nunggu lagi lebih lama karena akan kehilangan moment yang berharga tsb.

Kenapa kita ngotot harus lihat? Karena ini agenda utama tujuan kita ke pulau Kiluan ini. Inilah tempat habitat asli si lumba2 imut. Tempat inilah terjadinya migrasi lumba2 setiap pagi. Sudah mulai agak panas, sudah tidak akan ada lagi lumba2 lewat.

Di Teluk Kiluan dua jenis lumba-lumba. Spesies pertama adalah lumba-lumba hidung botol (Tursiops Truncatus) dengan badan lebih besar, berwarna abu-abu, dan pemalu. Spesies kedua adalah lumba-lumba paruh panjang (Stenella Longirostris) dengan tubuh lebih kecil dan senang melompat. Kawanan lumba-lumba liar menyelam bebas di bawah laut ditambah dengan pantai berpasir putih dengan latar belakang langit biru jernih merupakan destinasi utama Teluk Kiluan.

Jam 07.00 lewat, sekitar 10 menitan kita mengarungi laut dengan perahu kecil, perahu jukung namanya, yang mana 1 perahu Cuma boleh diisi oleh 3 – 5 penumpang aja (sudah termasuk drivernya). Sampai di tengah-tengah laut, kita langsung memicingkan mata untuk lihat sirip2 lumba2. Dan dari kejauhan, kita liat segerombolan sirip lumba2, trus mereka lompat2an keluar dari air. Kita kejar dong. Dan ga Cuma perahu kita, tapi semua perahu yang melihat itu juga menuju ke kawanan tersebut. Alhasil, ketika kita tiba, kawanan lumba2 itu sudah menghilang. Ya, mereka akan menghilang ketika mendengar deru mesin perahu. Jadi, ketika kita mau mencapai ke kawanan lumba2, ada baiknya matikan mesin perahu, lalu kita dayung aja perahunya. Atau kalau punya kamera dlsr yang lensanya ada yang super panjang, itu lebih bagus. Karena keseringan ketika kita tunjuk ada kawanan lumba2, kita kejar, sampai tkp, udah hilang. Kan capcai.

Si lumba2 itu juga tau ketika mereka jadi artis diburu paparazzi, mereka juga jenga’ rasanya, jadilah mereka ngumpet. Secara kita ga nyelem ke dalam laut, jadi mereka aman untuk ngumpet di dalam air.

Setelah puas hampir 1 jam di tengah laut untuk lihat lumba2 cantik, waktunya kita balik kandang. Menyenangkan, bisa lihat lumba2 live/ siaran langsung. Rasanya amazing. Ga akan pengalaman seperti ini bisa dibeli orang.

So, jam 08.00 am kita kembali ke cottage untuk packing balik ke Jakarta. Ga ada yang banyak diceritakan di sini dengan rute yang sama ketika pergi. Tapi, sebelumnya kita menikmati kelapa muda dahulu, fresh from oven. Jadi, akang2nya yang jaga (officer, penjamu kita selama nginep), manjat pohon kelapa dan langsung ngebelah kelapa di situ juga.

Jam 11.00 pagi ke Canti – Baukeheni – Merak – Jakarta. Jam 22.00 malam sampai di rumah, home sweet home.

049
foto bareng dulu di Teluk Kiluan
050
Jakarta, I’m coming home…

Catatan: Biaya thn 2014 untuk 1 orang IDR900,000. Gw sm anak gw jadi 1,8jt. Itu sudah all in, kita ga keluarin uang lagi kecuali utk keperluan pribadi.

Tips:

  1. Pergilah saat musim kemarau.
  2. Bawa sunblock karena kita akan banyak bermain dengan sinar matahari.
  3. Bawa tas kedap air.
  4. Bawa waterproof camera atau tas kamera kedap air untuk narsis ketika snorkling.
  5. Bawa banyak ransum (cemilan), khususnya air mineral. Kalau cemilan, sekalian buat bagi2 anak2 kampung sana di pulau Kiluan.

Semangat Air (Rafting) Water Spirit

Sungai Citatih dengan debit normal 45m/s yg dimulai dari Sukabumi sampai dengan Pelabuhan Ratu. Tempat yang cantik untuk bersemangat bersama air. Rafting kami menamakannya.

The Citatih with normal debit 45m/s that starts from Sukabumi to Pelabuhan Ratu harbour. Beautiful place to have spirit with water. We named it Rafting.

Perjalanan dimulai dari Jum’at malam tgl 23 Mei 2014. Rombongan menggunakan 2 bis kapasitas @30 orang, berangkat dari kantor TPSE hampir jam 9 malam. Jadwal awal adalah jam 8 malam. Molor sejam J. Maklum, kami pekerja yang waktunya sangat sibuk untuk bekerja :):):).

The journey began  from Friday night on 23 May 2014. The group used 2 buses with capacity @30 people, left from TPSE office almost 9pm. 1st schedule was 8pm. Late for 1 hour. Be understood that we, employees, are very busy for working :):):).

Sendal gunung belum ada, cemilan harus dibeli, tanding tepok bulu harus tetap berjalan, deadline menunggu, jadilah tim pembeli sendal berangkat, tim tanding tepok bulu menyelesaikan tugasnya dulu, panitia pembeli cemilan berangkat, deadline terpaksa diserahkan ke Project Manager :).

Hiking slipper was not yet ready, snack must be bought, badminton games must go on, deadline was waiting, so there hiking slipper team left, badminton teams finished their duty, snack committee left and deadline was given to Project Manager :).

Perjalanan sampai ke hotel Augusta Sukabumi, Jl. Raya Cikukulu (arah kota Sukabumi) menyita waktu sampai dengan kurang lebih 4 jam. Sedikit ada kecelakaan karena sepanjang jalan di jalan raya sukabumi banyak lubang. Jadi, ketika sedang pules2nya kami, tiba-tiba bis berhenti mendadak. Ternyata, ada sepeda motor yg terjungkil karena lubang dan sopir bis kami mencoba menghindar. Untunglah tidak menjadikan peristiwa tersebut berkepanjangan. Jadi, untuk yang hendak melewati jalan tsb, harap sangat berhati-hati.

The journey arrived to Augusta Hotel Sukabumi, Jl. Raya Cikukulu (Sukabumi city direction)  took time to more less 4 hours. A bit accident we had due to many holes on the road. When we were sleeping so tight, suddenly the bus stopped. We found that there was a motorcycle crashed to the road and our driver tried to avoid it. Fortunately, the case was done immediately. So, be careful for those who want to pass that road.

Sampai di hotel, waktu menunjukkan jam setengah 1 pagi tgl 24 Mei 2014. Beberapa tidur, beberapa masih terbahak-bahak…

We arrived at almost 1 am on 24 May 2014. Some were sleeping, some were laughing …

Sekitar hampir jam 7.30 pagi, kami sudah siap sedia untuk check out dan menuju ke meeting point Riam yang berada di PLTA Ubrug, Sukabumi. Riam kali ini bekerja sama dengan RIAM JERAM, www.riamjeram.com, berkantor di Kompleks Perkantoran D’Best Blok C/7, Jl. RS Fatmawati Raya No. 15, Gandaria Selatan, Jakarta, Telp: 021-769-9016sd17. Kami sudah siap dengan jaket penyelamat, helmet dan dayung jam 9 pagi. Pakaian terbaik saat akan rafting adalah kaos, celana panjang. Pendek (tidak jeans), sendal gunung, topi dan kacamata bila perlu. Barang-barang berharga peserta akan disimpan dalam box penyelenggara dengan dibungkus plastik terlebih dahulu. Barang-barang tsb tidak disertakan dalam perahu kita. Jika ingin membawa barang yang disertakan dalam perahu, bisa dibungkus juga dengan plastik dan dititipkan ke petugas di perahu kita. Mereka telah mempersiapkan tas anti air dan dikunci ke tali dalam perahu. Barang-barang yang bisa dibawa adalah baju ganti jika ingin sholat zuhur (karena jalur yang panjang), kamera, rokok, dll yang memang diperlukan selama perjalanan karena dijamin tidak akan ada pedagang asongan selama menyusuri sungai :).

It’s almost 7.30am, we were ready to check out and prepared to first meeting point which positioned in PLTA Ubrug Sukabumi. Rafting this time was with RIAM JERAM, www.riamjeram.com, office at Kompleks Perkantoran D’Best Blok C/7, Jl. RS Fatmawati Raya No. 15, Gandaria Selatan, Jakarta, Telp: 021-769-9016to17. We were ready with life jacket, helmet and paddle at 9am. The best dress was t-shirt, short/ pants (no jeans), hiking slipper, hat and glasses if needed. Important items will be kept in the box but should be wrapped up first with plastic. Those things would not be together with us on the boat. If we would like to have them on the boad, we need to wrap up with plastic and pass them to the guide. They have prepared waterproof bag that would be locked to the boat. Those things can be changing clothes if you want to pray (due to long distance), camera, cigarrette, etc that you need during the journey on the river because I guarantee there will be no food street standby 🙂.

Foto bersama dengan perlengkapan lengkap, lalu briefing dengan petugas mengenai instruksi yang akan diberikan selama di perahu. Instruksi tersebut adalah bagaimana memegang dayung. Dayung mempunyai bentuk huruf T di ujungnya yang berguna untuk dipegang dengan mengunci jempol kita dan mendekap sisi atas T oleh 4 jari kita. Insturksi lain adalah maju yang berarti dayung ke depan. Mundur yang berarti dayung dari belakang. Ke kiri, berarti semua orang di perahu harus bergeser ke kiri. Ke kanan, berarti semua orang di perahu harus bergeser ke kanan. Boom, berarti semua orang harus ke tengah perahu dan jongkok juga meletakkan dayung dengan posisi vertikal.

Group picture with complete PPE (Personal Protective Equipment) then briefing with the guide about the instruction when we are on boat. Those instructions were, how to hold the paddle. The paddle has T form in one side in order to person holds it by locking its thumb and followed by 4 fingers. Another instruction was go ahead means we paddle to front. Go back means paddle to back. To the left means everybody on the boat must go to the left side and vise versa. Boom, means all people on the boat must go to the center of the boat and do half sit with vertical position of the paddle.

Selain itu juga ada informasi bila peserta kecebur ke air. Jika kita jatuh ke air dan atau perahu terbalik, hal yang paling utama adalah tidak panik dan posisi yang terbaik adalah celentang dengan kaki di permukaan air karena jika kaki di dalam air, kita tidak pernah tau batu-batuan yang berada di dalam air dan bisa mencelakakan kaki kita sendiri. Jika teman kita terjatuh ke dalam air, dalam jarak jauh, berikanlah dayung kita dengan posisi huruf T menuju ke korban dan dayung di posisi kita. Jika sudah mendekat, tarik jaket penyelamatnya bukan orangnya untuk naik ke perahu.

Another information was if there would be someone drawning to the water. If ourselves drawn or our boat is upside down, the most important thing is not panic and the best position is lying with face to the sky and feet are on water because if the feet are in water, it’s frighten of many stones in the water and they can harm our feet. If our friend drawn to the water, if the distance is quite far, we need to give our paddle with T form to his face and paddle is to our body. If he’s getting closer, then we need to pull him by the jacket, not the body.

Kamipun siap setelah briefing selesai. 10 perahu (9 perahu peserta, 1 perahu penyelamat) mulai beraksi. Jarak yang akan kami tempuh total 35 KM dengan 2x istirahat. Pengarungan pertama mempunyai rute Bojongkerta ke Leuwilalay sepanjang 12 KM. Pengarungan ke dua berute Desa Leuwilalay – Jembatan Cipicung sepanjang 23 KM. Pengarungan pertama mempunyai banyak riam dahsyat (adventure), sebaliknya rute kedua riamnya biasa-biasa saja (family package).

We were ready when briefing done. 10 boats (9 were participats, 1 was rescue team) started action. We would cross 35 KMs with 2 times break. First route was Bojongkerta to Leuwilalay for 12 KMs. Second one was Desa Leuwilalay – Cipicung Bridge for 23 KMs. First route was adventure route and the second one was family route, just so so.

Semula semua anteng dan menikmati keindahan sungai, sawah-sawah di pinggir sungai dan tebing-tebing. Namun, tiba-tiba semua jadi rusuh karena ada pelopor penggerak penceburan peserta. Saling tarik-menarik jaket penyelamat untuk menceburkan kawan, juga sangkut-sangkutan dayung untuk menarik kawan masuk ke air. Suasana jadi bising, gaduh dan semrawut karena setiap orang tertawa terpingkal-pingkal, teriak-teriakan, jatuh-jatuhan, culik-culikan dan sebagainya yang rusuh. Hal ini terjadi berulang-ulang karena saling balas membalas. Namun hal ini terjadi hanya jika di air tenang.

At first, all of us enjoyed the beauty of the river, farms on the edge of river and cliffs. But suddenly everything was messed due to provocator to pull and fall down people to river. All pulled each other on life-vest and used paddle to pull and made them drawn to the water. Situation became noisy, riot and mess because everyone was laughing, screaming, falling down each other, kidnapping and everything. This thing happened many time only when the water flowed calmly.

16 jeram kami lewati. Masing-masing jeram mempunyai nama dan karakteristiknya. Setiap jeram, ada nama pengenalnya dengan menggunakan papan nama yang ditempelkan di pohon atau tebing. Ada yang membuat beberapa teman-teman jatuh ke air karena kuatnya arus dan tidak siapnya pegangan di perahu, ada juga yang biasa saja tapi ada juga yang harus diawasi perahu penyelamat karena ganasnya arus. Setiap perahu mempunyai tali yang mengelilingi perahu berguna untuk pegangan peserta ketika melewati medan sulit.

16 cascades had been passed. Each of cascade has name and its characteristic. Each cascade’s name has its own board name on trees or cliff. Some friends were felt down to water because of hard stream and not to hold the boat. Some were ok. Each boat has rope that encircle the boat as handle by people when passing by the hard field.

Jeram pertama yang kami lewati adalah Jeram Slalom. Jeram ini sering kali digunakan untuk pertandingan dengan kategori slalom. Selain arusnya cukup kuat, tempat dan grade dari jeramnya sangat sempurna untuk dilakukan lomba tersebut. Maka dari itu disebut jeram slalom.

First cascade is Slalom cascade. This cascade is often used for competition. Besides the stream is strong, area and grade are perfect for competition.

Jeram kedua adalah Jeram Ngehe. Nama jeram yang diambil dari kata sumpah serapah para guide karena walaupun jeram ini mempunyai karakter yang tidak terlalu sulit, tapi ternyata bisa membuat perahu terbalik. Dan dari terbaliknya perahu itu, para pemandu sering menyebutnya “ngehe”.

Second cascade is Ngehe cascade. The name was taken from the oath of the guides because even this cascade is not difficult to pass, but can make the boat upside down. This upside down incident made guides call it “ngehe”.

Jeram ketiga adalah Jeram Serius. Jeram yang jangan dianggap remeh.

Third cascade is Serius (Serious) cascade. Never underestimate this cascade.

Jeram keempat adalah Jeram Jontor.

Fourth cascade is Jontor cascade.

Jeram ke 5, Jeram apa y? ah, lupa saya.

Fifth cascade is I have no idea. I forgot 🙂

Jeram ke 6 adalah Jeram (Saung) Asmara. Saung asmara berawal dari nama sebuah jeram yaitu jeram asmara yang mempunyai kisah dimana dalam 1 perahu terdapat sepasang kekasih yang selalu tidak ingin berada jauh satu dengan yang lainnya. Saat memasuki salah satu jeram, keduanya saling berpegangan tangan dan ternyata mereka berdua terjatuh dari perahu dan hanya mereka berdua yang jatuh.

Sixth cascade is Asmara (Romance) cascade. It began when there was a couple in one boat that they never ever wanted to separate. When the boat went into one of the cascades, both were holding hands and then they drawn to the water together. It’s only them who drown when no body didn’t.

Jeram 7, Jeram UnderCut. Jeram ini cukup kuat untuk mengikis bebatuan yang ada di depannya, sehingga ada satu batu besar yang terkikis yang membentuk ceruk di ujung jeram tersebut.

Seventh cascade is UnderCut cascade. This cascade is strong enough to scrape stones that lie in front of it. Then, till one day there was big stone was eroded to form niche in the end of cascade.

Jeram ke 8 adalah Jeram Pabeulit.

Eight cascade is Pabeulit cascade.

Pada jeram ini kami beristirahat di meeting point 1. Di sana kami menikmati kelapa bulat dan ubi rebus. Toilet tersedia. Tidak disangka 3 jeram setelah break sebentar adalah jeram-jeram yang dahsyat yang harus dikawal dan dijaga di depan arus oleh tim penyelamat.

In this cascade we took a break in meeting point 1. We enjoyed original coconut and boiled cassava. Toilet is available. Unexpectedly, 3 cascades after the break are tremendous cascades that we needed to be guarded by the rescue team.

Jeram 9, Jeram Gerbang.

Ninth cascade is Gerbang (Gate) cascade.

Jeram 10, Jeram Zig Zag. Jeram yang memiliki karakter zig zag. Perahu yang melewati jeram ini akan bermanuver kanan dan ke kiri.

Tenth cascade is Zig Zag cascade. This cascade has zig zag character. The boat which passes this cascade will do right and left maneuvers.

Jeram 11, Jeram Warok dan Marzuki Usman. Jeram yang mengisahkan suatu Leuwi Warok yang berarti tenggorokan dan langsung melewati jeram Marzuki Usman yang pada saat itu pengarungan bersama Bapak Marzuki Usman pada tanggal 26 Juli 1998. Saat itu beliau menjabat sebagai MenPora yang terjatuh di tempat tersebut.

Eleventh cascade is Warok and Marzuki Usman cascade. Cascade that told story about Leuwi Warok which means throat and straight passed Marzuki Usman cascade with Marzuki Usman on 26 July 1998. He was Head Minister of Youth and Sport and felt down to the cascade.

Setelah jeram ini, kami istirahat makan siang dan sholat Zuhur. Di meeting point ini, kami dapat menikmati foto-foto kegiatan kami di perahu yang diabadikan di 2 titik jeram. Setiap foto dikelompokkan berdasarkan pemandu. Setiap kelompok foto bernilai jual 100 ribu dibuatkan dalam CD. Setelah semuanya selesai, kami melanjutkan ke jeram berikutnya. Jeram-jeram setelah pos 2 terbilang sudah tidak ada tantangannya karena memang diperuntukkan kepada keluarga (family package).

After this cascade, we took a break for lunch and Zuhur pray. In this meeting point we enjoyed our pictures that was taken in 2 spots of cascades. Each picture was grouped based on the guide. Each photo group worth 100thousand IDR in 1 CD. After all had been done, we continued to next cascade. Cascades after post 2 were not so challenging because these cascades were for family (family package).

DSCN2990

Jeram 12, Jeram Kerinduan.

Twelfth cascade is Kerinduan (Missing) cascade.

Jeram 13. Jeram yang mempunyai kisah karakteristik berbelok-belok dan arus yang sangat kuat yang melalui penyempitan di antara 2 celah batu, sehingga terkesan saat memasuki jeram tersebut layaknya naik roller coaster.

Thirteenth cascade. This cascade has twist characteristics and strong stream that through the narrowing gap between two rocks, thus impressed upon entering the rapids like roller coaster.

Jeram 14 adalah Jeram Blender. Jeram yang berkarakter seperti blender yang bisa menggulung peserta yang jatuh dikarenakan jeram tersebut terbentuk karena adanya patahan sehingga terbentuk arus turbulen.

Fourteenth cascade is Blender cascade. This cascade is like blender which rolled people who felt down to the water because the cascade was formed due to fault forming a turbulent flow.

IMG_1190

Jeram 15 adalah Jeram Panjang. Jeram yang terdiri dari jeram-jeram kecil yang saling menyambung, membuat jeram ini menjadi panjang.

Fifteenth cascade is Panjang (Long) cascade. This cascade consists of small cascades that connect to each other, made this cascade became long.

IMG_0676

Jeram 16, Jeram Monyet. Ditemukannya beberapa monyet di jeram ini.

Sixteenth cascade is Monyet (Monkey) cascade. It was found some of monkeys in this cascade.

IMG_0637

Jeram 18, Jeram Kerinduan. Kisah jeram yang tidak akan melupakan jeram tersebut dan akan merasa rindu jika sudah melewati jeram kerinduan.

Eighteenth cascade is Kerinduan (Longing) cascade. Cascade story not to forget after passing through this cascade.

IMG_1315

Kami sempat menikmati keindahan alam gunung Bongkok dan sekitarnya sebelum berakhirnya petualangan kami. Pemandangan yang indah. Sayang sekali tidak bawa kamera waterproof. Walaupun bawa kamera digital biasa, saya sempat khawatir untuk mengeluarkannya untuk mengabadikan pemandangan indah tersebut karena takut kamera jadi korban keisengan teman-teman yang saling menceburkan ke air.

We enjoyed the beauty of mount Bongkok and surrounding before ending our journey. Beautiful scenery. Too bad I didn’t bring waterproof camera. Even though I just brought normal digital camera, I was bit worried to use it to take those beautiful views because friends were all fed to throw us into the water.

Beberapa meter sebelum sampai di meeting point terakhir (jembatan Cipicung), hampir semua perahu dibalikkan oleh pemandu dan teman-teman. Karena memang itulah pesan dari semua peserta dan keisengan pemantu untuk saling membalikkan semua perahu. Untungnya perahu yang saya naikin tidak bisa ditebalikkan karena saya tahan perahu sambil teriak-teriak untuk tidak dibalikkan ke pemandu hahahahahaha… 🙂

Few meters before last meeting point (Cipicung bridge), almost all boats were being upside down. It was message from all participants. Goodness, my boat was not being upside down because I screamed loud to the guide not to make it happened. It worked hahahaha… 🙂

DSCN3040

Dari lokasi tsb, berjejer angkot yang telah siap membawa kami ke meeting point terakhir. Hanya angkot yang bisa membawa kami dalam jumlah banyak karena jalanan yang ditempuh adalah jalan kecil. Perjalanan yang lumayan jauh yang akhirnya tembus keluar ke jalan raya Pelabuhan Ratu.

From that location, many small public transportation were ready to take us to the last meeting point. Only small cars could take us due to small roads. Very far distance to take us to Pelabuhan Ratu road.

Sampai di meeting point, kami bersih-bersih (mandi) dan  makan malam. Walaupun istilahnya makan malam, namun waktu masih menunjukkan pukul 4 sore lewat. Berangkat dari tempat pertemuan terakhir jam 5 sore dan tiba di kantor kembali jam 10 malam lewat. Di tengah perjalanan, kami sempat berhenti untuk beli oleh-oleh khas Sukabumi yaitu mochi dan pisang sale. Yummy… Pengalaman yang menyenangkan! 🙂

At the last meeting point, we took shower and had dinner. We call it dinner even it’s still 4pm. Last departure was at 5pm and arrived in the office at 10pm. We dropped by in the middle of the journey to buy Sukabumi souvenir, mocha and pisang sale. Yummy… great experience! 🙂

Saya bisa simpulkan detail perjalanan sbb:

Hari 1

20.30 – 01.00      Jakarta – Hotel Augusta Sukabumi

Hari 2

07.30 – 08.30      Hotel Augusta Sukabumi – PLTA Ubrug

09.00 – 11.00      PLTA Ubrug (meeting point 1) – Leuwilalay

11.00 – 12.00      Leuwilalay – meeting point 2

12.00 – 13.30      ishoma

13.30 – 15.00      meeting point 2 – Jembatan Cipicung

15.00 – 15.45      Jembatan Cipicung – meeting point 3

17.15 – 22.30      meeting point 3 – kantor jakarta

Setengah Jalan-Jalan di Singapore

 

#Singapore #Singapura #Flyer #SingaporeFlyer #SultanMosque #Sultan #Bugis #MustafaCenter #GardenByTheBay #Changi

Rada bosen sebenernya ke Singapur karena dengan sekarang sudah ke 6 kalinya. Tapi, berhubung tugas kantor, tetap dijalankan, dengan semangat. Ya, semangat karena bisa milih hotel sendiri. Jadilah pilih di Village Bugis hotel, sangat dekat dengan masjid terbesar di Singapore, masjid Sultan.

Jadi, begitu tiba di Changi 15-Nov-15@17.00 waktu setempat, langsung ke Dock Information untuk dapat fasilitas shuttle bus gratis seperti yang dijanjikan pihak hotel. Dengan bantuan wanita Chinese setengah baya yang ramah dan sangat membantu dan kurang dari waktu 30 menit seperti yang dijanjikan, jadilah naik shuttle bus gratis sampai hotel.

IMG_9722

Karena belum sepat tukar uang, maka deposit hotel dibayarkan dulu dengan USD untuk 1 malam.  Masuk kamar hotel, tiba-tiba terdengar suara azan. Alhamdulillah karena lokasi hotel sangat dekat dengan  mesjid, maka suara azan terdengar jelas. Bergegaslah ke mesjid untuk magrib sekaligus isya.

Lepas sholat, beli air mineral seharga SGD1.5 untuk rebus mie cup J. Hotel menyediakan air mineral 2 botol, tapi tetap harus ada cadangan.

Karena on duty, maka jalan-jalan di Singapore hanya setengahnya dari kehidupan seharian. Maksudnya hanya bisa dilakukan setelah pulang kerja. Maka, jadilah Senin lepas kerja langsung capcus ke Singapore Flyer.

Naik bus dari RS Raffles dengan nomor 133. RS Raffles tepat bersebelahan dengan Village Hotel Bugis. Dengan karcis hanya SGD1.4 sampai di halte Singapore Flyer. Jalan sebentar, belok kiri, sampai deh di Singapore Flyer. Dengan bayar karcis SGD33 untuk dewasa, kita bisa masuk dan melihat2 beberapa view sebelum sampai ke flyernya.

Seperti biasa, di Singapore, kalau di tempat wisata, pasti ditawari foto yang mana kalau sudah selesai menikmati kesenangan, akan diminta cetak atau tidak. Kalau cetak, bayar lagi. Utk di flyer ini, sekali cetak seharga SGD25.

Menikmati Singapore dari ketinggian di waktu senja adalah sesuatu. Putaran sangat lambat dan memakan waktu 30 menit. Dan ternyata ada 1 kapsul khusus untuk dine. So romantic. Utk couple dengan harga SGD296, siap dengan pelayan.

Karena sudah malam dan ingin tau juga ongkos taxi, maka langsung buka pintu taxi. Tariff di awal SGD3.2 dan karena sudah malam, kena charge di atas jam 5 sebesar SGD4.3. total sebenarnya SGD5.18. jadi semua hampir SGD10.

Kembali ke Bugis, kembali ke masjid Sultan. Setelah ibadah, lihat2 sekeliling, ternyata ada yang murah2 untuk souvenirnya. Tokonya berada di belakang masjid. Yang punya keturunan Surabaya India, tapi sudah jadi WN Singapore dan cakap juga sudah melayu.

Hari berikutnya ke Mustafa Centre. Direkomendasikan oleh bagian concierge untuk naik taksi karena kalau naik bis agak susah dari hotel menginap, harus jalan lumayan dulu baru sampai halte terus setelah turun di halte juga jalan lagi. Kalau taxi, cepat, dari pintu hotel langsung ke pintu Mustafa Center. Satu kali jalan harga taxi sebesar SGD6an. Belum lagi setelah keluar pintu Mustafa Center, bakal perjuangan berat untuk naik bis dengan tentengan kanan kiri yang lumayan berat.

Mustafa Center buka 24 jam. Ga ada matinya. Semakin malam semakin ramai, khususnya di lantai 2. Giru deh kalau sudah sampai sana. Berbagai macam souvenir dan coklat banyak pilihan dan tentunya harga juga bervariasi. Kalau tidak dikontrol bisa jebol kantong J. Setelah puas dengan coklat, nyambung ke ground floor, khusus kain-kain India, Sari. Berhubung anak lagi demam India dan dia kepingin banget baju Sari, maka dapatlah 1 potong kain Sari yang sangat panjang untuk 1 stel warna pink dengan blink2 yang wow, sampai itu kain berat sekali. Padahal kain Sari itu tipis, Cuma karena blink2nya (mutenya) macet alias rame padat, jadilah berat. Kain yang dibeli seharga SGD65 + kain daleman untuk rok daleman seharga SGD3. It’s kind of a surprise lah buat My Diamond secara pas juga dengan bulan ultahnya.

Setelah puas belanja, hari berikutnya harus ke Garden By The Bay. Walaupun sudah 6x dengan ini ke Singapura, tapi belum injakkan kaki ke Garden By The Bay.

Alhamdulillah, ada teman ke sana dan baru saja ke sana minggu sebelumnya liburan dengan keluarganya. Ada kolega datang dari India, orang Swedia. Teman Project SAP sebagai coach. Jadi, secara tidak langsung beliau guide di Garden By The Bay.

Pulang kerja, ngacir jam 7.30 malam dari hotel pakai taxi, SGD10an, turun di Hotel Marina Sand Bay, yang gedung 3 kaki itu loh, yang atasnya kesambung semua dengan “perahu”. Hotel lux. Kantong belum sampai untuk nginep di sana hehe… jadi turun di tower 1, masuk ke dalam, keluar sedikit dari Tower 1 & 2, naik lift dari luar itu (masih dalam pekarangan hotel). Naik sampai lt. 6. Tadinya mau lihat pertunjukan laser dari “perahu” hotel, tapi tak kunjung juga, akhirnya langsung ke ujung jembatan penghubung hotel dan Garden By The Bay.

Ternyata di sana sudah banyak orang menikmati pertunjukan regular persembahan Garden By The Bay dari kejauhan. Ada yang benar2 menikmati, tapi ga sedikit juga yang mengabadikannya. Pertunjukan berlangsung 15 menit menjelang jam 8 malam.

Setelah selesai, meluncur turun pakai escalator, menuju “pohon-pohon” gede listrik tsb. Angkuhnya mereka berdiri dengan sangat elegan. “Pohon-pohon” terdiri dari satu induk yang paling besar di tengah, dan beberapa “anak2nya” mengelilingi. Induk “pohon” mempunyai restaurant di atasnya. Pastinya mahal lah harga makanannya. Tidak tau sih, tidak ngecek sejauh itu karena kita lebih excited untuk eksplore daratan lebih jauh.

Ada 2 “anak”nya saling berhubungan dengan tangga di atas menaranya, untuk orang-orang menikmatinya dari dekat. Tiket hanya SGD5. Sayangnya, ketika kita sampai sana, tiket sudah tutup. Terakhir pembelian tiket jam 8 malam, walaupun antrian masih panjang (pembelian terakhir tadi). Naiknya dari salah satu “anak” tangga dengan lift. Liftnya ada dalam batang “pohon”nya. Dan turunnya di anak “pohon” satunya lagi. Di antara 2 anak “pohon” itu, orang-orang yang menikmatinya akan melalui si induk.

Karena tiket sudah ditutup, lanjutlah kita ke tempat yang lain. Ketemu lah jam raksasa pepohonan. Itu seperti jam di King’s Park #Perth, #Australia. Very nice to see. Lanjut ke cloud forest. Dome yang isinya air terjun kehijauan (bukan kekinian yak). Sayangnya itu juga sudah tutup. Cuma bisa liat dari luar lewat kaca domenya. Tapi, tidak apa2. Air terjun di Indonesia lebih menggairahkan dan menarik karena sangat alami. Saking Singapura tidak punya resource alami untuk hal-hal alami, maka dibuatlah sesuatu seperti itu untuk menyegarkan Singapura sekaligus menjadi pemasukan Negara. What a brilliant idea.

Sebelahan ada flower dome. Dome yang isinya bunga2an. Well, kita bisa nemuin segala macam jenis bunga di Indonesia. Lebih variatif dan alami. Kalau sudah liat beginian, baru berasa proud to be Indonesian. Tapi kalo udah liat kasus2 korupsi, banjir, macet, bah …

Terakhir kita lihat toko souvenir. Keren2 tapi mehong2 bo. Cukup puas hanya dengan menikmati saja. Balik ke atas, kita lihat map dan ternyata ada pertunjukan lagi seperti tadi yang kita lihat dari jembatan hotel. Dan itu akan dimulai jam 8.45 malam. Bergegaslah kita berdua ke sana. Dan ternyata 10 menit sebelum dimulai, kita sudah sampai, sudah banyak orang pada duduk-duduk di pinggiran “pohon-pohon”.

Teng 8.45, dimulailah pertunjukan, dan smua orang sudah standby dengan kameranya masing2. Hanya 1 atau 2 orang yang benar2 menikmatinya tanpa kamera. 12 menit berjalan, selesailah sudah. Kami balik ke hotel untuk naik taxi dan langsung menuju Kampong Glam.

Lihat di google maps, Kampong Glam itu 10 menit jalan kaki dari hotel kami. Tapi tenyata, begitu sampai sana, mesjid Sultan kelihatan jelas banget. So, ini mah ga 10 menit tapi kurang dari 5 menit aslinya.

Cari makan di sekitar sana, dapatlah tempat Kampong Glam Café. Harga lumayan. Untuk 1 piring nasi goreng kena SGD5, mie bandung SGD5 dan minuman rata2 SGD2 seperti teh tarik dingin. Jadi, makan berdua total semua SGD14. Lumayan, ketimbang martabak ayam beli di depan masjid Sultan, harga SGD8.

Tidak terlalu ramai banget di Kampong Glam, karena sudah banyak yang tutup. Saat kita sampai di sana, sudah hampir jam 10 malam. Jadi, jangan bayangkan Kampong Glam ramai setiap saat seperti Mustafa Center yang 24 jam tidak pernah tidur.

Oya, di sana ada penjual snack/ makanan ringan, kakek2 tua dengan pakaian koko yang bersih. Kalau berada di Kampong Glam dan lihat kakek itu, janganlah sungkan membeli jualannya walau kita ga butuh. Kalau bisa kembalian tidak usah kita terima sebagai sedekah. Beliau juga menyediakan kantong amal untuk fakir miskin di Malaysia, tanah kelahirannya.

H-2, dinner di restaurant all you can eat, Carrousel, berlokasi di hotel Royal Plaza on Scotts sebrang hotel Grand Hyatt, di pusat kota Singapura, Orchard. Restaurant lux dengan sekali makan malam SGD83/ orang.

Makanannya banyak pilihan, dari sushi, berbagai macam kerang gede2, seafood, masakan India, pasta, lauk-pauk asia, kebab, buah, kue2 manis, es krim, yogurt, coklat cair fountain, kopi, teh, even wine.

Kamis malam itu luar biasa penuhnya tu restaurant. Seperti jual kacang, padahal harga ga bersahabat dengan kantong pribadi. Dunia yang konsumtif. Belum lagi menjelang X-mas, orchad sudah seperti kota lampu. Semua berlampu di setiap sudutnya.

Hari terakhir, no more choice selain ke Changi. Lepas kerja, jam 5 langsung ngacir dengan taci yang sudah dibooking. Jalur AYE, tollnya Singapur, macet bukan kepalang. Tau dari sopirnya yang buka waze plus berita di radio. Akhirnya diputuskan ambil KYE, jalur lebih jauh karena mutar haluan tapi lancar. Jadilah dari Tuas ke bandara kurang dari 1 jam. Sampai di T1 pintu masuk, ada sesuatu yang baru buat gw. Kinetic rain. Lucu. Display hujan warna gold yang bisa berpola. Kenapa bisa begitu karena dia seperti gantungan besar yang dikasih tali di atap dan elastic. Jadi bisa naik turun sesuai pola yang sudah dibentuk. Dan itu bagus. 5 menit pertama ngeliat, excited, tapi selebihnya jadi membosankan.

Sayang, sebelum imigrasi tidak ada tempat sholat. Ga asik. Jadi harus lewatin imigrasi dulu baru bisa sholat. Dan lebih sayangnya (sebel lebih tepatnya), Air Asia delay 1 jam. Aahh… ga asik.

 

 

 

Sweden, part-2: Antara Vaten Hallen, Abisko, Aurora, Ice Hotel dan Stockholm.

#Abisko #Sweden #Aurora #Aurora_Borealis #IceHotel #Stockholm #VatenHallen #Lund

Dimulai penerbangan tengah malam dengan Qatar airways yang Alhamdulillah makanannya halal. Tapi, tidur keganggu. Secara dapat makan 2 kali, habis take off dan mau landing.

Well, anyway, sampai di Kopenhagen jam 1 siang hari Minggu, 13 Des 2015. Sebelumnya transit di Doha jam 5 pagi. Langsung cus naik Orensdag ke LundC. Sampai di Hayllie, ada pemeriksaan polisi, lumayan cukup lama. Waktu Sweden part-1, ga ada pemeriksaan tersebut. Ternyata itu pemeriksaan pengungsi yang mau masuk Swedia. Beberapa orang ditanyain detail dan lama tapi enggak gw, walopun gw jilbaban, secara begitu buka passport gw dia senyam senyum aja dan ga tanya-tanya karena cap-cap imigrasi di passport gw udah rame kayak pasar.

Masalahnya gw yang deg-degan karena bakal habis waktu dan gambling untuk ke Vaten Hallen. Di sana tutup jam 5 sore dan Cuma buka Sabtu-Minggu. Jadi, Cuma hari ini kesempatan gw ke sana. Alhamdulillah setelah selesai pemeriksaan, kereta langsung cus lagi dan sampilah kita di Lund C terus ke hotel ParkInn by Radisson jam 3.

Bergegaslah buru2, dan sholat dulu, dijamak. Karena zuhur dan ashar di musim dingin sangat pendek. Sopir taxi komplen karena gw ga tepat waktu. Bilangnya 10 menit jadinya 30 menit. Gw minta tunggu untuk diantar ke Vaten Hallen sampainya di hotel. Dan ternyata urusan di resepsionis lama. Ya udah sih, minta maaf aja sambil nyengir. Lagian gw juga perlu sholat. Biar diomelin sopir taxi daripada diomelin YME.

Jam 3.30pm cus dari hotel ke Vaten Hallen. Apa sih Vaten Hallen? Iya, pasti nanya, soalnya gw emang ngotot banget ke sana.

IMG_0277

Vaten Hallen itu tempat science center + planetarium di Lund yang berlokasi di Lund Universitet. Jadi, isinya kayak PP IPTEK TMII + Planetarium TIM kalo di Jakarta. Semua dalam skala mungil dibanding di Jakarta. Secara Lund itu juga kota kecil banget. Kalo temen2 bilang Lund itu ndeso. Tiket masuk dewasa SEK70. Tambahan aja nih, ongkos taxi dari hotel ParkInn by Radisson Lund, PP VatenHallen SEK500an. Mantab kan bro… tongpes-tongpes dah…

Ketemu sama petugasnya dan doi bilang, pertunjukan planetarium udah selesai. Terakhir jam 14:40. aiya… lewat dah kesempatan gw karena nyampe sana 15:50. Doi ngejelasin bagian-bagian Vaten Hallen tsb dan sekarang katanya lagi ada peragaan robotic. Well, ga terlalu tertarik karena tujuan utama gw planetarium.

But anyway setelah doi ngejelasin, nah part terakhir penjelasannya bikin gw semangat lagi, secara dia ngomong ntar jam 4 pas masuk planetarium aja. Ya udin, 10 menit gw keliling2 ga jelas karena semua peragaan IPTEKnya pakai bahasa Swedia plus anak2 yg lagi praktek science jg, si kakaknya pakai bahasa Swedia.

Jam 4 pas, gw dicariin sama si mbak petugas. Dan doi bilang, hayu ke planetarium. Ihiy, seneng banget gw. Dan begitu buka pintu, yup small size dengan design yang sama dengan planetarium TIM. Sepertinya seperempat ukuran dari TIM. Trus, gw Tanya yg lain mana, sambil nyengir dia bilang peserta Cuma gw doang. Mantablah kl gitu. Gw request pakai bahasa Inggris dan doi ga masalah.

Jadi ceritanya, doi itu mahasiswa Lund Universitet jurusan kimia astrologi gitu deh (rada lupa dia nyebut jurusan apa) dan doi magang di Vatenhallen ini. Namanya Tim tapi mbak.

Langsung doi show rasi2 bintang di mulai di winter dengan tanda khususnya si Orion. Itu juga berlaku di Indonesia kala musim hujan. Doi ngasih peta bintang yang bentuknya segi delapan 4 dimensi. Dan doi kasih senter infra merah untuk lihat peta bintang itu kala pertunjukan karena selama pertunjukan pastinya gelap gulita.

Doi jelasin semua ttg rasi di semua musim dan beberapa tambahan informasi tentang Andromeda dan beberapa bintang2 terang, seperti Sirius. Pertunjukan sekitar 20 menit. Kalau yang officialnya bisa sekitar 40 menitan. Well, oke lah, setidaknya mengobati … kelar situ beli deh kinetic sand untuk oleh-oleh bocah.

IMG_0293

Selama kerja 5 hari di kantor pusat Lund, ga ada yang special karena udah ada di Sweden, part-1. Cuma satu hal pas hari ke-4, akhirnya gw bersepedaan di Lund sama salah satu kolega yang ngintilin ke Lund. Jadilah kita dari hotel ke pusat Lund bersepeda sekitar 10 menit. Hotel yang kita tinggalin bisa disebut daerah pinggir, makanya lumayan harus pakai moda transportasi. Untungnya setiap hotel di sana nyediain sepeda gretong alias gratis.

IMG_0357

Hari terakhir kerja, udah keriting bunting eiy ini otak. Secara banyak peer, mata masih terus ga bersahabat dan gatel2 ini sudah sangat mengganggu bingits dah ah. Penyakit gidu gw dah akut, dah berbagai macam obat dan cara dilakuin buat penyembuhan, tapi ga ada yang mempan. Ada yang punya solusi?

Pulang kerja langsung cus ke Lund C. Stasiun kereta apinya Lund. Ceritanya mau ke Utaranya Swedia, Abisko, salah satu kota di lingkar kutub utara. 200 km doang jaraknya dari kutub utara. Tujuan utama: Northern Light, si cantik Aurora, Aurora Borealis. Semua orang bilang gw gila, bahkan beberapa orang Swedia langsung melototkan mata ketika gw sebut Abisko and Kiruna. And surprisingly, ternyata banyak orang Swedia yang ga pernah ke sana. Ga heran kalau orang2 bilang gw sinting. Tapi, ada juga well, bisa diitung jari kalau itu ok-ok aja dan bahkan ada 2 orang yang udah pernah liat itu si cantik Aurora dan dengan cerita mereka tentang itu, bikin gw semangat lagi.

Jadi, dimulailah dari Lund C, jam 17:23 tgl 18 Des. 2015. Semua tiket kereta, PP, udah gw book waktu di Indonesia, www.acprail.com, dan semua bayarnya pakai kartu kredit secara on-line. Lund C – Stockholm C, sampai jam 21:39. Begitu sampai Stockholm C, liat jadwal untuk kereta penghubung. Dan ternyata, ampun deh , telat 1 jam 10 menit. Dimana connecting train terakhir itu jedanya Cuma 30 menit. Panic dong gw. Gw nyalain deh tuh data roaming bwt cari notel kereta. Utk yang acprail.com ada di tiket, tapi ternyata setelah ditelp, mereka ga tau tentang itu.dan mereka itu basenya di Kanda. Oh, jadi mereka Cuma seperti agen kereta.

Gw cari clue lagi. Gw liat kereta gw namanya SJ Snabbtag. Ya, langsung gw cari notelnya. Dapet. Gw telp langsung, based di Swedia. Karena ternyata SJ itu kayak KAI-nya Indonesia. Gw certain kondisi gw dan petugas bilang, kereta selanjutnya akan nunggu atau kalau ga nanti waktu sampenya sebelum jamnya. Kalau gw masih panic, gw disuruh nanya petugas di stasiun sana. Well, agak melegakan.

Lumayan nunggu 2 jam di stasiun yang dingin, bikin jari2 gw beku. Dan ternyata banyak banget orang2 yg mau ke utara. Dan ga malu2in dg koper gw yg segede gaban karena hampir semua orang yg pergi kopernya sama gedenya sama gw, bahkan malah ada yg lebih rempong dari gw.

Dateng juga keretanya jam 23:50 yang jadwal aslinya 22:40. Itu kereta khusus kereta malam yang ada tempat tidurnya di kompartemen. Gw pilih yang sleeper, isi 6 orang, cewe semua. Car no gw 39. Begitu kereta tiba, gw liatin setiap gerbong, 37… 38… 40… nah loh, nomor 39nya ga ada. Ya udin, gw masuk aja yg 40. Carilah compartment gw. Eh, pas gw masuk udah ada 2 laki2 tidur. Shit, dalam hati gw. Langsung 10001% ga nyaman abis gw. Mana yang tempat tidur tengah, orangnya tidur ga pake baju lagi. Onde mande…

Gw bingung plus pingin teriak. Trus, tiba2 ada sepasang masuk. Dia Tanya gw di mana. Gw bilang tempat gw di atas. Ke atas lah gw, eh ternyata kanan kiri atas udah ada orang. Berarti total di kamar itu 7 orang. Nah, bingung kan. Trs yg perempuannya Tanya gw. Iya, kamarnya nomor 35 car no 39. Gw ga liat 39. Dari 38 langsung 40. Trus, dia bilang mungkin ketulisan pake tangan aja keles. Ya udin, gw cabut, tapi langsung ada yang manggil2. Miss miss… nomor 39 belok kanan, gerbong terakhir.

Aiyaa… bisa gitu. Dari depan nomornya urut tuh gerbong2, eh, pas jatah gw, berantakan.  Untungnya pada baik2 orangnya. Ya langsung cabut ke gerbong belakang dan Alhamdulillah ketemu. Semuanya perempuan. Gw di bawah, padahal harusnya di atas. Gw bingung naiknya, 3 tingkat gitu tempat tidurnya tapi ga ada tangga.

Semua dah pada tidur. Males gw Tanya. Tunggu aja ada 1 orang lagi berarti nanti dateng, pikir gw. Sholat dulu di kamar itu. Dan ngepas pas pas utk ukuran sholat dengan mengabaikan kiblat. Lumayan pusing sholat di kereta. Kayak berasa gempat kalo pas lagi berdirinya. Dan nah, bener deh, begitu berenti lagi d satu stasiun ga tau apa namanya, ada yang masuk lagi. Trus dia bilang, emang gw mau di bawah? Dia sih gpp. Gw sebenernya mang harus ambil hak gw di atas, gw bilang aja gw ga tau gimana naik ke atas. Trus dia bilang, manjet aja. Hellow… manjet dengan backpack yg super duper berat, nginjek2 kasur yang lain? No way dalam hati gw.

Trus, tiba2 ada yang bangun dan bilang, itu ada tangga di samping tempat tidur bawah. A-ha, finally… ternyata ada tangganya. Yawes, langsung dipasang dan gw langsung manjet pake tangga. Trus, tidur lah d sana. Cukup untuk tidur dan mentok kalau duduk.

Dapet jatah 12 jam di kereta malam itu. Tidur lumayan nyeyak tapi ga bisa lama karena panggilan alam ngebangunin gw jam 4 pagi. Ampun deh. Ya wes, sekalian deh, gosok gigi en wudhu. Nunggu subuh jam 06:15 waktu Soflletea, Sweden. Bis sholat, tidur lagi. Trus, tiba2 ada pengumuman di speaker di setiap kamar, aiihhh…. Kenceng banget suaranya. Spontan semua melek. Itu, jam 9 pagi.

Liat jendela. Semua putih. Wuiihh…. Keluar lah gw dari kamar. Subhanallah… semua putih dan dingin. Masya Allah, Subhanallah… cantik banget dah ah. Karena gw norak, ya gw pandangin lah sepanjang jalan sambil makan apel sebagai sarapan. Eh, ternyata gw gw doing yang norak. Banyak bule2 juga norak dan pada ambil gambar.

Setelah 12 jam di kereta, sampailah di stasiun Boden C. sampai sana jam 11:30 tgl 19 Dec. 15. Jadi Cuma ada waktu 7 menit utk ganti kereta. Begitu keluar, Masya Allah, dingin bo. Nafas gw berasep. Untung emang telat itu kereta yang di Stockholm, jadi begitu turun, ga ada 5 menit, kereta koneksi langsung dateng. Dan gw ga perlu beku di luar (-7OC) untuk nunggu.

Ga sampe 5 menit, kereta langsung cus. Another 5 hour di kereta. Boden C – Abisko Ostra. Lewatin stasiun Kiruna. Dan emang Kiruna salah satu kota besar di Swedia. And yes, kotanya ramai dengan lampu2. Itu berarti kotanya banyak orang. Saljunya tebel bingits bo di Kiruna. Ga kebayang apalagi di Abisko.

Belakang bangku rame banget dengan 3 orang Chinese. Brisik banget sepanjang perjalanan. Pucing pala bebi dengerinnya. Tapi, lucu, pas sampe Kiruna dan mau ke Abisko Ostra, tetiba kereta jalan mundur. Cep, semua langsung bungkem. Setan lewat. Gw yakin pada panic, secara gw juga sedikit panic. Setelah beberapa menit, mereka ngobrol lagi tapi pelan2 suaranya. Trus, ga berapa lama dateng petugas ke gerbong. Langsung aja gw Tanya, ini ke Abisko Ostra ga? Dia nodded. Ya wes, tenang. Eh, kambuh lagi tuh mereka brisiknya.

Jam 5 kurang dikit sampe di Abisko Ostra. Jiah… mereka turun juga. Dan ternyata satu penginepan. Haiyaa…  sempet kepleset salah satu dari mereka. Dan ternyata salju itu licin ya? Ga tau gw, norak, jadi jalan hati2 deh.

IMG_0415

Sampai di penginapan nego kegiatan. Gw mau photo tour malam ini tapi ga ada temen. Semua kegiatan di sana, min. 3 orang. Jadi, saran nih, baiknya kalau mau pleasure ke utara musim dingin, bawa 2 orang temen supaya ga nunggu2 tamu lain, berharap ga jelas gitu. Lumayan lama ngobrol nego2 sama petugas sana sampe akhirnya datang couple dari Hongkong dan ternyata mereka juga mau Aurora photo trip. Alhamdulillah jadi cao. Mereka suggest the next night. Gw ga bisa, karena udah booked dan bayar Aurora Sky Station. Uang udah masuk ke sana dan ga bisa ubah tanggal.

Jadilah jam 7 kurang kita kumpul di receptionist untuk ganti baju dulu. Semua mantel yang kita pakai, petugas bilang pasti tembus sm dingin. Jadi ternyata mereka emang punya gudang khusus bwt perlengkapan ke luar ruangan dari mulai baju bengkel dan boot yang super tebel dan berat, topi Eskimo, kaos kaki, sarung tangan sampe bulu reindeer.

Khusus untuk photo trip yang biayanya sebesar SEK995, dikasih pinjem juga kamera profesionalnya + lampu di kepala. Dan ternyata setelah kumpul semuanya total 8 orang. Ga nyangka lumayan rame. Dan untuk photo trip, ada tenda di tkp untuk ngangetin badan kl di luar dingin bingits.

So, kita berangkat jam 7 ke tempat yang lapang dan bener2 gelap. Kita set up semua kamera di sana. Yang ngajar nyettingin kamera ke titik focus sampe bisa moto bintang.

1 jam nunggu… gigit jari… kedinginan… masuk tenda… ga ada hasil. Keluar, berawan abis, huhuhuhu… narsis aja dulu deh kl gitu. Masuk tenda lagi, ngangetin badan sekalian buka boot karena kaki keram kedinginan. Sumprit, dinginnya maknyus. Padahal udah pake baju perang. Di dalam tenda kita bakar marshmellow. Baru tau gw kl marshmellow gede2 gitu ditusuk trus dipanasin di atas api biar meleleh, trus ditaro di biscuit, tambahin coklat. Kayak biscuit masrhmellow coklat yang ada di Indonesia itu, Cuma ini manual bikinnya.

Udah abis ngebenerin keram sendirian di tenda gw keluar lagi dari tenda dan banyak2 berdo’a. Alhamdulillah… tiba2 doi dateng. Pertama malu2 datengnya. Kecil and dikit. Abis itu langsung panjang, sepanjang setengah lingkaran dunia. Segaris, ijo. Abis itu, temen2nya dateng. Ya ampuunn… cantik banget. Dan abis itu… bener2 amazing, mereka gerombolan dateng tepat di atas kepala, which means yang keliatannya tuh mereka di atas ujung dunia, nari-nari di “kubah dunia”.

It’s soooooooooooo wonderful. Amazing. Ijo, ungu, pink berlayer nari2 di atas kepala kita, di “singgasananya”. Langsung kita minta foto sama tutornya. Sebelumnya foto sendiri2 dengan background si cantik, abis itu rame2. Semua pada teriak girang pas gerombolan si cantik nongol berkali2. Apalagi waktu pertama kali gerombolan itu munculin satu2 terus kerumunan terus langsung show, wow… kita super hepi. Karena sebelumnya beberapa udah shat shit shat shit karena berawan tebal dan kelihatan tidak bersahabat.

Tapi emang, di sana semua unpredictable. 10 menit bisa berawan abis, 10 menit kemudian bisa clear lagi. 5 menit bisa too windy, 5 menit kemudian bisa tenang dan 5 menit lagi langsung bisa ujan. Banyak yang buka aurora forecast di internet, tapi banyak yang bilang ga ngaruh. Semua ga bisa diprediksi untuk si Aurora ini. Aneh emang, but that’s the fact. Secara yang ngintip aurora forecast bilang, 1 jam lagi muncul, tapi 1 jam lagi itu ga muncul2. Malah muncul setelah udah lewat 1 jam-an itu.

Allah punya misteri …

IMG_0428

IMG_0432

Kita pulang dengan perasaan senang semua. Dan ternyata ketika kita ketemu sama group yang aurora snowmobile, mereka juga hepi dan ramelah kita cerita2.

Next day, hari trip ke hotel es alias ice hotel di Jukkarsjarvik, 15 menit dari Kiruna. Tadinya, ice hotel trip ini udah ga akan jadi karena g ada temen, tapi, Alhamdulillah muncul yang sepasang orang dari Hongkong itu dan mereka juga mau ke sana. Alhamdulillah, pucuk dicinta ulam tiba. Allah baik banget sama gw.

Jam 9 pagi udah kudu siap di resepsionis. Perjalanan memakan waktu 1.5 jam. Pemandangan kanan kiri, putih semua… jadi tidur aja deh, tapi di tengah2 kita ketemu sama sekawanan reindeer yg lagi cari makan. Lucu ya mereka.

Jam 10 lewat, kita sampai di ice hotel. It’s sooo cold… tiket masuk dewasa SEK200. Tapi karena kita pake transport juga dari Abisko, jadinya 1 orang SEK1,190. Everything is expensive here. Tepok jidat deh.

Pintu Cuma 1 untuk kamar2 dingin. Semua kamar tahun 2015 ini, total 55 buah. Semua bersuhu         -5OC. Masuk ke lobinya Cuma ada pelataran simple. Hotel tersebut ada sayap kanan dan kiri. Jadi setiap sayap ada beberapa gang. Dan setiap gang itu lah kamar2nya tsb berada. Setiap kamar punya judul dan nama pemahatnya. Beberapa menarik dan malah ada yang unik. Setiap tahun, pahatan ga sama. Tahun ini yang special ada gajahnya. Setiap tahun pemahat2 datang untuk mahatin yang mereka mau secara setiap summer, hotel esnya akan meleleh.

Jadi, dari pagi sampai sore, hotel tersebut dibuka untuk umum untuk lihat2. Sore sampai malam sampai pagi lagi, ditutup karena mau dipake sama tamu. Helloww… ada gitu yg nginep di situ secara biar kata dipannya papan dan kasur biasa + kulit reindeer, tapi suhu ruangannya di bawah 0 derajat? Baru sejam aja gw di dalam ngiter2in tuh semua ruangan, udah pada beku semua, plus jari2 tangan, udah bener2 kaku, apalagi mau tidur dr malem sampe pagi? Sensasi yang lebay…

Belum kelar ngiter, perut udah krayak kruyuk. Untung ada coklat Indonesia, Silverqueen. Abis itu satu batang sekaligus. Biasanya Cuma 1 potek doang. Alhamdulillah, ganjel dikit. Setelah kelar semua kamar ditengokin, kita keluar dan di luar udah rame sama turis2 yang pada mau masuk ice hotel.

Langsung aja nyebrang jalan untuk ke restaurantnya. Tanya punya Tanya makanan dan harga, kita ber-4 memutuskan untuk makan di sana. Laper abis nek. System lunchnya buffet dengan harga SEK155/org. karena kartu kredit gw udah over limit (huahuhuhuhu…) dan krone gw ga cukup, melayanglah lembaran Dollar gw dengan kembalian Swedish Krone. Gpp, jadi bisa beli oleh2 uang kembaliannya:D.

Balik dari ice hotel, gw liat pasangan Ekuador – Swedia, lagi bikin snow man terbesar tahun ini. Well, gw coba tawarkan bantuan dan mereka terima. Mereka lagi buat kepalanya dan itu gede banget. Jadi, kita bertiga berusaha untuk bawa kepalanya ke badannya. Kita dorong sekuat tenaga. Amboi… beratnya masya Allah. Udah sampe badannya, lebih mencret lagi naikin kepalanya ke atas. Mereka aja tuh berdua yang atur strategi, gw dengerin aja dan bantuin. Seriusan, mpe mencret angkat kepalanya ke atas. Si Ekuador aja sampe buka mantel baju bengkelnya itu saking keringetannya dalam suhu 2OC. dan hasil kerja sama kita bertiga, kepasanglah kepalanya. Selanjutnya mereka ngebentuk sampe jadi, gw balik kamar karena banyak urusan.

Malam, hunting Aurora lagi lewat Aurora Sky Station (ASS). Perjalanan Cuma 5 menit dari penginapan ke sana. ASS itu letaknya di Abisko National Park. Penjemputan dan tiket masuk udah on-line booking. 5 menit pakai mobil dengan harga SEK150. Okelah, dari pada jalan selama 20 menitan dalam dingin, sepi dan gelap. Jam 20:50 teng, mobil datang untuk jemput.

Sampai sana jam 9 malam pas. Turun dari mobil, sopirnya bilang dia akan jemput balik 2x. jam 21:45 dan 00:15. Telat, ditinggal, gitu katanya. Dan pastikan balik lebih awal dari atas stasiun sana karena antrian biasanya panjang dan lama.

Well, ga salah doi ngomong gitu. Karena begitu mau masuk pintu, itu orang udah bejubel di kotak transparan, yang ga taunya tempat ngantri untuk naik kereta gantung. Cuma kereta gantung itu satu2nya moda untuk sampai ke atas ASS. Di tempat antrian itu udah disiapin juga baju bengkel yang super duper tebel dan super duper gede. Ga ada men, ukuran orang asia macam gw yang mungil. Yang paling kecil S, itu segede laki gw yang biasa pake ukuran XL. Kebayang kan lo gw harus survive dengan mantel sendiri.

Untuk sepatu juga segede2 gaban. Berhubung sepatu gw basah secara tadi sore bantuin bikin snow man, jadilah gw ganti sepatu sana yang gede, tebel dan berat. Ga apa-apalah gw pikir dari pada kaki gw rontok kebekuan di open space naik gunung gitu. Lumayan ga memble-memble banget dengan 1 nomor lebih gede dari yang pake biasa.

Hampir 20 menit ngantri, akhirnya kebagian deh jatah gw naik kereta gantung. You know what, Cuma tempat duduk tok tanpa penutup. Dan kereta itu berjalan selama 25 menit ke atas ASS sepanjang hamper 1 KM. jangan macem2 di kereta kalau bisa jangan ngeluarin apapun dari tas. Kebayang kan lo kalo jatoh tuh barang lo ke bawah, gimana ngambilnya coba? Kalau mau jeprat jepret, kalungin ke leher.

Setengah perjalanan pertama, okelah, dinginnya ya dingin. Dan sepanjang perjalanan itu, Allah bener2 sayang ma gw, dikasih liat lagi tuh si cantik Aurora mpe berkali-kali. Gileeeee… indaaahhhhh banget nget nget. Ijo, ungu, nari2 cantik d panggung semesta. Kebayang kan lo, sendirian di atas bangku melayang dalam kegelapan dan dingin yang maknyos trus lo ngadah ke atas langit, liat pertunjukan si cantik Aurora trus liat ke bawah puluhan meter putih semua plus hitam2 (pohon2), liat Aurora lagi ditemani bintang2 terang, Masya Allah… ngerasa lo keciiiillll banget, kecil banget, ga ada apa2nya. Jadi, kawan, gw Cuma bisa bilang, JANGAN SOMBONG. Lo Cuma secuil ujung kuku di muka bumi ini mungkin bahkan sepertrillyun dari 1 butir salju di alam semesta ini.

Setelah kelar setengah jalan, jalanan makin nanjak makin ke atas. And you know what? Angin semakin kencang dan saaaaaaangat kencang. Gw udah ga mau liat langit dan liat bawah. Gw Cuma bisa pegangin tutup kepala gw kanan kiri supaya kepala gw dan pipi gw terus ketutup. Gw juga tutup idung gw pake syal. Cuma tinggal mata aja yang keliatan. Gw nunduk sepanjang jalan ke atas sampe stasiun. Walau gw pake sarung tangan dan berusaha untuk tetep pegang si pucung, tangan gw dah beku dah ga berasa tangan. Yang gw denger Cuma suara angin berderu2. Sesekali ujan turun, sekitar mata gw kayak ditusuk2 kena air hujan. Pokoknya horror banget deh selama beberapa menit. Tapi, Alhamdulillah sampe juga ke atas, survive!

Di atas itu ternyata Cuma tempat kayak restoran, ada cafenya dan beberapa jualan souvenir. Ada penghangat juga di sana (tungku perapian). Langsung gw ngangetin badan plus tangan yang beku di sana. Lumayan lama untuk tangan gw kembali hangat, padahal itu perapian lumayan panas loh.

Ga berapa lama, tour guide manggil untuk ngasih pelajaran, apa sih Aurora itu. Jadi, kita disuruh masuk ruangan kotak 2×2 dengan isi beberapa layar monitor yang ngasih gambar2 Aurora dan hubungan2nya. Juga ada gambar seberapa tinggi Aurora berada di langit luar atmosphere kita sana.

Ga sampe 10 menit doi ngejelasin tentang Aurora. Yang mau Tanya, silahkan Tanya. Setelahnya kita bisa liat2 sendiri di touch screen itu semua tentang Aurora dan pastinya astronomi.

Yang pada bawa kamera professional, pada keluar untuk hunting Aurora. Gw coba untuk keluar. OMG, baru buka pintu, gw langsung tutup lagi. Anginya kenceeeeeng banget, rek. Persiapan gw ga mateng. Gw ga pake sarung tangan dan idung ga ditutup. Gw siapain lagi semua, terus keluar lagi. Itu pun ga berapa lama. Cuma liat2 aja ada apa di luar.

Dan ternyata di luar, kita bisa liat kota Abisko yang berlampu2 dalam kegelapan. Trus, juga beberapa siapain kamera dan hunting. Ada juga yang tidur2an di bangku sambil ngeliat ke langit. yang lagi berdua2an juga ada (sirik mode on).

Ga banyak yang bisa gw lakuin di ASS karena ga bawa kamera professional. Kamera HP dan digital, ga mempan nangkep Aurora. Sedih deh pokoknya. Jadilah gw balik jam 11 dari atas. Keluar ASS trus masuk jalur antrian ga ada petugas tapi ada bel, jadi kita pencet, orangnya nongol. Angin ribut ga kelar2. Makin malem pulang makin kenceng anginnya. Belum lagi ntar ditinggal sopir lagi. Jadi, putusin tetep balik. Dan terulang, sepanjang perjalanan, gw Cuma bisa megangin pucung biar ga kebuka, biar kepala dan pipi gw tetep ketutup plus tutup idung syal. Pokoknya rapet banget deh. Daaann… terulang lagi dingiinnnnya dalam setengah perjalanan.

Tapi, begitu setengah perjalanan terakhir, semua kayak normal lagi. Aman, dingin normal dan Aurora muncul lagi, jadi ngadah lagi kepala ke atas. Alhamdulillah, 2 malam ini ga sia2 dateng jauh2 dari Jakarta ke lingkar kutub utara, dikasih hasilnya apa yang diniatkan. Sampai di bawah, tunggu mobil jemputan. Dan pas 00:15, langsung cabut.

The next morning. Yang tadinya mau snowmobile, gatot euy secara partisipannya Cuma gw seorangan. So, bayaran direturn balik ke kartu kredit gw. So, alhasil gw jalan2 aja sendirian dalam salju di sekitar penginapan. Ga banyak yang gw liat. Gw ga mau pergi terlalu jauh karena ga mau tersesat hahahahaha… males banget kalo tersesat secara kereta siang nanti mesti teng-go dan badan juga udah mulai berasa cape hehe.

Killing the time, foto2 narsis aja sama si snowman plus alam sekitar. Jam 11 pagi check out ke stasiun yang Cuma 150 meter jaraknya. Tapi jangan anggap enteng jarak segitu yang harusnya 3 menit jalan kaki, ini bisa 10 menit bwt gw dalam salju dan nggegeret2 koper 20kg.

Kereta datang jam 12:15 dan tepat jam 12:18 cabut, sesuai jadwal yang tertera di tiket. No late, pokoknya. Kalaupun delay, papan pengumuman akan kasih info delay dan jam revisi kedatangan. Dan itu pun pas banget sesuai jamnya.

Kereta Abisko ke Boden C dapet tempat duduk normal, dan dari Boden C ke Arlanda C untuk kereta malamnya, gw pilih yang bed chaucette secara perginya ambil yang sleeper. Arlanda itu stasiun bandara. Jadi stasiun di bawahnya, bandara (airport) di atasnya.

Sampai Arlanda C jam 7 kurang 10 menit, yang harusnya 6:04 karena ada delay. Jam 5 udah bangun, siap2 sigap takut kelewatan stasiunnya. Dan ternyata jam masih sepagi itu buat orang2 sana kali ya, jadi pengumuman pemberhentian stasiun enggak diumumin lewat speaker karena mungkin biar yang lain ga keganggu, tapi petugas ngetokin pintu penumpang satu2 sesuai pemberhentian. Begitu sampe kabin gw, pintu diketok sekali terus langsung dibuka sama doi. Langsung Tanya, you are number 34, stop in Arlanda, right?

Yup! Langsung gw beberes dan keluar kabin. Tunggu di luar aja, ga masuk2 kabin lagi, takut kelewatan. Eh, bener, begitu berenti, gw Cuma liat pemandangan kayak di dalam gua. Apa berhenti sementara sambil nunggu kereta barang lewat? Secara beberapa kali seperti itu. Berhenti di tempat yang ga sesuai Cuma utk nunggu kereta barang lewat. Dan secara ga bisa liat sisi yang lainnya karena ketutupan kabin, langsung gw bergegas ke pintu. Begitu pintu kebuka, untungnya ada petugas yang tadi, langsung gw Tanya, dan doi inget gw di kabin nomor berapa. Langsung dijawab iya. Wah, langsung loncat keluar gw, daripada kebablasan.

Dari stasiun gw naik ke atas, yaitu bandara. Serahin tiket kereta ke petugas, baru bisa dibukain pintu masuk bandara. Di sini petugas perempuannya jutek. Terminal 5 langsung ada di sebelah kiri. Cari tempat sholat. Setelah tanya2, ternyata tempat sholat semua agama dijadikan satu. Oh My God… dan itu ternyata emang normal di Eropah sana utk menyatukan tempat sholat semua agama.

Berhubung no choice, ya dilakukan juga di situ. Cari toilet untuk beberes ganti baju karena mau free walk tour di Stockholm. Masukin koper dan backpack ke loker yang ada di lantai bawah dengan harga SEK80 untuk ukuran gede. Setelah aman, langsung beli tiket bus. Saran kalau mau ke Stockholm dari Arlanda, sebaiknya naik bus aja ketimbang Arlanda Express (kereta) karena harga kereta 2x lipat. Jadwal bus setiap 20 menit sekali. Dapat jatah bus 6C. keluar dari terminal, menuju pangkalan bus. Di sana nanti ada petugas yang minta tiket kita untuk ditandai. PP Arlanda – Stockholm dengan bus SEK218, sedangkan dengan kereta sebesar SEK530.

Turun di T-Centralen. Pusatnya Stockholm, dekat dengan Tourist Information Center. Jam 10 teng, yang pada mau free tour walking udah ngumpul. Lumayan banyak, ada sekitar 20 org. ada seorang tour guidenya. Doi jadi bawa kita keliling Stockholm, masih di sekitar pusat kotanya, menceritakan asal usul Stockholm, beberapa kejadian2 fenomenal, kisah2 ratu dan pangeran, sampai misteri perdana mentri yang mati ditembak. Kenapa misteri? Karena pelakunya tidak terungkap sd skrg setelah 30 tahun. Dan katanya kalau bisa ungkapin pembunuhnya siapa, dapet duit kl ga salah SEK3juta.

Karena tour itu gratis, kita Cuma diingatkan untuk kasih tips. Yang puas, bisa kasih tips senilai kepuasan, yang ga punya uang, kasih hug aja gpp, katanya. Wah, kalau guidenya cowo, boleh juga sih tips + hug huehehehehe…

Kelar ini, liat upacara pergantian petugas di istana ratu. Penonton kecewa, Cuma 5 menit euy. Dan pada bertanya2, what’s next? Cuma segini? Yaaa… tidak semenarik di Amalia’s Borg, Kopenhagen. Udah dinginnya menggigit, atraksinya Cuma secuil. Yah, terima nasib. Langsung cus aja ke pusat informasi turis, Tanya naik apa ke Mesjid. Tadinya mau jalan kaki karena Cuma sekitar 20 menitan. Berhubung ampun dije dengan suhu udara, jadi kibarin bendera putih aja dan langsung memutuskan untuk naik transportasi umum.

Tanya numpang Tanya naik apa kalo ke Keppelgrand 10, disuruh naik metro. Aih, mati gw, langsung bengong disuruh naik metro, gw langsung mikir metong metro mini. Ke underground di bawah circle city, gw ikutin petunjuk, eh ga taunya metro itu kereta. Aihss… gw norak bingits deh. Ngikik ngikik sendiri. Stasiun yang dilewatin Cuma 3 dan Cuma 5 menit ajah. Turun setelah Lussen, gw lupa nama stasiunnya. Turun, naik tangga, belok kanan, hoalalalaaa… Alhamdulillah depan mata itu mesjidnya.

Hal yang paling menyenangkan ketika di luar negri adalah ketemu masjid! J.

Setelah selesai ibadah zuhur, azhar lanjut magrib (secara zuhur dan ashar waktunya singkat2 di winter), balik dengan rute yang sama, balik ke Arlanda terminal 5. Ambil koper dengan cemplungin koin item yang tadi dapet pas masukin koper ke loker. Isya dulu sebagai penutup dimulai jam 5:23 sore. Nunggu mpe kriting dah mpe setengah 10 malem, cus, Jakarta I’m coming home…

 

Beda Sleeper dan Bed Couchette sesuai pengalaman pribadi
Deskripsi Bed Couchette Sleeper
Isi tempat tidur 3 6
Kunci pintu Ada Tidak ada
Fasilitas mandi Dapat Tidak dapat
Waslap Ada Tidak ada

 

Tips:

  • Bawa obat2an pribadi, khususnya cairan2 yang bisa menghangatkan badan seperti minyak kayu putih, minyak tawon, dll, di musim dingin di Eropa dan sekitarnya.
  • Bawa kamera professional (LSR) untuk hunting Aurora, supaya ga nyesel di kemudian hari. Kalau Cuma buat narsis bukan di Aurora, ga masalah pakai yang poket digital gitu.
  • Semua kegiatan di Eropa, tepat waktu. Jadi jangan anggap sepele untuk urusan waktu. Kalau bisa datang 5 menit sebelumnya supaya enggak ketinggalan. Telat 1 menit aja ditinggal.
  • Untuk pemesanan ASS, sebaiknya dibook di awal paling lambat 2 minggu sebelum tanggal H-nya karena kalau ga, ga akan kebagian tempat selama musim liburan. Sama seperti dog-sled, lepas H-2minggu, udah fully booked.
  • Untuk berada di kereta 24 jam, siapin makanan sendiri karena kereta ga menyediakan makanan gratis. Kalau ga mau repot bawa makan sendiri, ya mesti sediain uang krone. Juga di penginapan di Abisko, bawa makanan mentah sendiri, kita masak sendiri di sana karena memang disediakan dapur lengkap dengan semua peralatan memasak.